SALATIGA, Lingkarjateng.id – Wali Kota Salatiga Robby Hernawan meminta penanganan sanitasi tak layak mengacu pada hasil pemetaan kondisi sanitasi. Langkah ini penting agar program penanganan air limbah domestik dan persampahan dapat diarahkan ke lokasi yang paling membutuhkan.
“Berdasarkan pemetaan yang sudah ditampilkan, konsentrasi penanganan harus difokuskan pada lokasi-lokasi dengan jumlah akses sanitasi tidak layak terbanyak. Jangan sampai program terlalu menyebar dan semua ditangani, tetapi keberhasilannya tidak jelas karena pelaksanaannya hanya setengah-setengah,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Rabu, 28 Oktober 2026.
Selain penanganan air limbah domestik, Robby menyoroti pentingnya pengelolaan sampah dari hulu dengan melibatkan masyarakat. Ia menilai, edukasi dan pemberdayaan warga menjadi kunci untuk meningkatkan kesadaran memilah dan mengolah sampah secara mandiri, terutama sampah organik.
“Kami mendorong penguatan bank sampah dan pengembangan organic center sebagai bagian dari upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Salatiga, Siswo Hartanto mengatakan penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK) merupakan tindak lanjut dari RPJMD Kota Salatiga, RPJMD Provinsi Jawa Tengah, serta target pembangunan nasional. Dokumen tersebut akan menjadi pedoman perencanaan dan pelaksanaan program sanitasi selama periode 2027-2031.
“Dalam dokumen itu, pemerintah akan memetakan kondisi terkini pengelolaan air limbah domestik dan persampahan, sekaligus merumuskan target pembangunan. Sasaran yang disusun mencakup target hingga akhir 2029 sesuai RPJMD serta arah perencanaan sampai 2031,” jelasnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Sekar































