SEMARANG, Lingkarjateng.id – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa Sekolah Rakyat Kota Semarang resmi dimulai, Selasa, 14 Juli 2026.
Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Agus Junaidi, mengatakan konsep MPLS di Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pengenalan lingkungan sekolah, tapi juga pembentukan karakter dan kedisiplinan peserta didik.
Sehingga pihaknya memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung ramah anak, bebas kekerasan maupun perpeloncoan, dengan pengawasan ketat selama 24 jam di lingkungan asrama.
“Konsep MPLS berlangsung sepanjang Juli. Kegiatannya bukan hanya pembelajaran, tetapi pengenalan lingkungan sekolah, pembentukan karakter, tanpa kekerasan dan tanpa perpeloncoan. Anak-anak dikenalkan dengan lingkungan, guru, kemudian dibiasakan patuh kepada orang tua dan guru,” katanya.
Seluruh siswa bahkan telah masuk asrama sejak sehari sebelum MPLS dimulai untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.
“Mereka sudah masuk sejak kemarin karena terlebih dahulu menjalani cek kesehatan. Alhamdulillah hasilnya baik semua,” ujarnya.
Agus juga menyebut kondisi siswa angkatan pertama Sekolah Rakyat tahun ini lebih siap dibanding sekolah rintisan sebelumnya.
“Secara mental, moral, maupun karakter, anak-anak yang diterima tahun ini lebih baik dibanding sekolah rintisan sebelumnya,” ungkapnya.
Meski menggunakan sistem asrama, Agus memastikan orang tua tetap diberikan keleluasaan untuk menjenguk anak setiap hari selama di luar jam pelajaran.
“Silakan datang setiap hari pada waktu istirahat atau di luar jam belajar. Sudah ada wali kelas, wali asrama, dan guru pendamping yang selalu mendampingi anak-anak,” jelasnya.
Menurutnya, keterbukaan akses bagi orang tua menjadi bagian penting agar mereka dapat memantau perkembangan putra-putrinya selama mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
“Orang tua bisa melihat tumbuh kembang anak setiap hari. Harapannya mereka tahu bahwa anak-anak berada dalam kondisi baik, bahkan kebiasaan, disiplin, dan moralnya akan semakin tertata,” katanya.
Ia juga meminta para wali murid tidak khawatir terhadap keamanan anak-anak di asrama.
“Di sini ada CCTV, guru pendamping, wali asrama, tenaga pendidik, dan petugas keamanan. Jadi orang tua tidak perlu was-was,” tegasnya.
Pola kehidupan di Sekolah Rakyat dirancang menyerupai pendidikan berasrama dengan aktivitas yang dimulai sejak dini hari.
Setiap hari siswa diawali dengan salat Subuh berjamaah, dilanjutkan apel pagi, sarapan bersama, olahraga, hingga mengikuti proses belajar mengajar sampai sore hari.
Sedangkan pembinaan kedisiplinan, Agus mengatakan nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Tidak menutup kemungkinan melibatkan unsur TNI maupun Polri.
“Kalau untuk pembinaan disiplin nanti sifatnya tentatif. Bisa saja melibatkan TNI atau Polri karena memang lebih sesuai untuk pendidikan kedisiplinan,” ujarnya.
Ia menegaskan asrama putra dan putri telah dipisahkan guna menjaga keamanan dan kenyamanan peserta didik.
Dirinya juga membeberkan kuota Sekolah Rakyat Kota Semarang akhirnya terpenuhi seluruhnya setelah dilakukan penjangkauan ulang kepada calon peserta didik.
Total terdapat 270 siswa yang diterima, terdiri atas 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA.
Sementara kuota cadangan disiapkan sebanyak sembilan siswa SD dan dua siswa SMP. Adapun jenjang SMA tidak memiliki daftar cadangan karena seluruh kuota telah penuh.
“Awalnya memang yang SD masih kurang. Setelah kami menggerakkan pendamping PKH, PSM, dan TKSK melakukan sosialisasi serta penjangkauan langsung ke masyarakat, akhirnya kuota terpenuhi,” jelasnya.
Menurut Agus, banyak orang tua yang semula ragu karena khawatir anak tidak betah tinggal di asrama. Namun setelah mendapat penjelasan mengenai fasilitas dan sistem pengawasan, minat masyarakat meningkat.
“Banyak yang awalnya khawatir soal asrama. Setelah kami edukasi dan sosialisasi lebih intensif, akhirnya mereka memahami bahwa kondisinya tidak seperti yang dibayangkan,” katanya.
Sekretaris Daerah Kota Semarang Handi Priyanto menambahkan, seluruh kuota siswa kini telah terisi setelah Pemkot melakukan koordinasi hingga tingkat kecamatan.
“Awalnya memang masih kurang. Setelah kami kumpulkan camat, Dinas Sosial, dan petugas lapangan, Alhamdulillah saat pembukaan seluruh kuota terpenuhi. Bahkan ada peserta cadangan apabila nanti ada yang mengundurkan diri,” ujar Handi.
Ia menjelaskan pembangunan fisik Sekolah Rakyat telah mencapai sekitar 99 persen dan tinggal menyelesaikan pekerjaan minor.
“Kementerian PUPR menyampaikan target tanggal 25 Juli seluruh pekerjaan sudah bersih dan selesai,” katanya.
Untuk sementara, tenaga pengajar berasal dari guru SD dan SMP yang diperbantukan Pemerintah Kota Semarang, sedangkan guru SMA berasal dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah hingga proses rekrutmen guru khusus Sekolah Rakyat dilakukan pada September mendatang.
Menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait keamanan di sekolah berasrama, Handi memastikan Pemkot telah menyiapkan berbagai langkah pencegahan.
Selain menambah personel keamanan dari satuan sekuriti dan Satpol PP, setiap asrama juga dilengkapi CCTV, terutama di asrama putri.
“Kami siapkan tenaga keamanan, kemudian setiap asrama dipasang CCTV sehingga keamanan siswa, terutama siswi, bisa terjaga,” katanya.
Tak hanya itu, setiap siswa juga akan mendapat pendampingan dari guru sekaligus wali asuh di luar kegiatan belajar mengajar.
“Kami memperketat pengawasan. Ada guru, ada wali asuh, kemudian CCTV yang aktif selama 24 jam sehingga keselamatan dan kenyamanan anak-anak tetap terjaga,” tandas Handi.
Ia berharap kehadiran Sekolah Rakyat mampu memberikan kesempatan pendidikan yang setara bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Harapan kami Sekolah Rakyat berjalan dengan baik, setara dengan sekolah lainnya, sehingga anak-anak yang sebelumnya belum mendapatkan kesempatan sekolah kini bisa memperoleh pendidikan gratis dan memiliki masa depan yang lebih baik,” tuturnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Sekar





























