Demak (lingkarjateng.id) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak menyoroti semakin kompleksnya ancaman bencana hidrometeorologi yang terjadi di wilayah Kota Wali. Selain banjir dan rob, daerah dengan tingkat kerawanan tinggi kini meluas hingga ke daratan yang diakibatkan berbagai faktor, termasuk rusaknya DAS.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Demak, Akhmad Sugiharto, menyampaikan bahwa dinamika hidrometeorologi terbaru hingga awal tahun 2026, dinamika kebencanaan di Kabupaten Demak tidak hanya terjadi di wilayah pesisir, melainkan juga di daratan.
Ia menjelaskan, wilayah dengan tingkat bahaya tinggi di Kabupaten Demak, kini terbagi dalam dua zona utama. Pertama, zona merah tinggi pesisir yang didominasi ancaman rob dan penurunan muka tanah.
Kawasan ini meliputi wilayah pesisir Kecamatan Sayung, Bonang, Karangtengah, dan Wedung. Sementara itu, zona merah tinggi daratan didominasi ancaman banjir akibat limpasan sungai serta jebolnya tanggul.
Zona ini bersifat fluktuatif, namun memiliki tingkat kerusakan yang tinggi ketika curah hujan di wilayah hulu meningkat tajam, diperparah sedimentasi sungai dan kerusakan daerah aliran sungai.
Menurutnya, bahwa dinamika pesisir Demak yang terjadi saat ini adalah mundurnya garis pantai akibat abrasi dan tenggelamnya daratan. Fenomena tersebut menyebabkan kawasan yang sebelumnya berupa daratan perlahan berubah menjadi laut.
“Dampaknya, hilangnya lahan, tenggelamnya pemukiman, hilangnya mata pencaharian dan kerusakan ekosistem,” beber Sugiharto dalam kegiatan Forum Konsultasi Publik revisi RTRW, belum lama ini.
Selain itu, ancaman lain yang terus meningkat adalah kenaikan air laut dan penurunan muka tanah. Lanjutnya, kenaikan muka air laut dipengaruhi perubahan iklim global dan mencairnya es di wilayah kutub, sedangkan penurunan muka tanah dipicu oleh eksploitasi air tanah, beban bangunan, serta kondisi geologis wilayah.
Sugiharto mengungkapkan, laju penurunan muka tanah di kawasan pesisir Demak saat ini rata-rata mencapai sekitar 17,60 sentimeter per tahun. Kecamatan Sayung menjadi wilayah paling kritis dengan laju penurunan tanah mencapai sekitar 21,61 sentimeter per tahun.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap semakin luasnya genangan rob yang kini bahkan telah merambah Jalan Pantura, jalur nasional yang menjadi urat nadi perekonomian di Pulau Jawa.
“Dulu, sudah kita sampaikan sekitar kurang 10 tahun lalu, dinamika pesisir ini kalau tidak segera diselamatkan, wilayah pesisir Jawa Tengah ini akan mengalami kerusakan lingkungan yang cukup parah, bahkan perekonomian di Jalan Pantura jadi terganggu, karena rob ini sampai di Pantura,” katanya.
Ia juga menyoroti adanya pergeseran wilayah terdampak rob yang kini bergerak ke arah timur. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena air pasang tidak lagi memiliki ruang yang cukup dan akan mencari tempat yang lebih rendah.
“Untuk itu, penataan ruang harus semakin adaptif terhadap potensi bencana, baik dalam perencanaan, ketentuan maupun struktur pola ruang yang disusun,” katanya.***
Jurnalis : Burhan Aslam
Editor : Fian































