Semarang (lingkarjateng.id) – Pengamalan nilai-nilai Pancasila, khususnya Sila Kedua tentang Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, masih menjadi pekerjaan rumah di Kota Semarang. Diantaranya masih rendahnya implementasi nilai kemanusiaan sehingga marak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), tawuran pelajar, aksi kelompok kreak, hingga pembegalan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang, Bambang Pramusinto, saat menghadiri forum SEMAR (Senin Malam di Serambi) yang digelar Santri Ndalan (Sandal) Nusantara, Senin (8/6) malam.
Bambang mengapresiasi forum diskusi lintas elemen tersebut mampu memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai Pancasila sekaligus mendukung peningkatan indeks aktualisasi Pancasila dan indeks harmoni masyarakat yang menjadi salah satu indikator ukur pemerintah.
“Kami memberikan respons yang sangat positif terhadap kegiatan seperti ini. Harapannya bisa mendongkrak survei indeks aktualisasi Pancasila di Kota Semarang,” ujarnya.
Menurut Bambang, hasil pengukuran indeks aktualisasi Pancasila menunjukkan pengamalan Sila Kedua menjadi aspek dengan nilai terendah dibanding sila lainnya.
Penilaian tersebut tidak hanya mengukur pengetahuan masyarakat terhadap Pancasila, tetapi juga perilaku yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
“Dalam indeks aktualisasi Pancasila ada dua aspek yang dinilai, yakni pengetahuan dan perilaku. Dari indikator-indikator yang ada, sila kedua menjadi salah satu yang perlu mendapat perhatian,” katanya.
Ia menilai berbagai persoalan sosial yang masih terjadi turut memengaruhi rendahnya skor pengamalan nilai kemanusiaan.
“Mungkin ada faktor-faktor KDRT yang harus terus kita kurangi, kemudian tawuran pelajar yang juga harus ditekan, termasuk aksi-aksi begal dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya,” ungkap Bambang.
Selain itu, berbagai kasus kekerasan yang muncul di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren, juga menjadi perhatian. Hasil diskusi dalam forum SEMAR akan menjadi bahan masukan bagi Pemkot Semarang untuk merumuskan langkah penanganan bersama OPD terkait.
“Semakin banyak elemen yang dilibatkan, semakin baik. Rekomendasi dari forum seperti ini akan menjadi bahan koordinasi untuk mencari solusi bersama,” tegasnya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Santri Ndalan, Muchammad Nur Huda atau Gus Huda, mengatakan forum SEMAR dibentuk untuk mempererat persaudaraan dan menyatukan berbagai perbedaan di tengah masyarakat.
“SEMAR ini untuk merekatkan dan menyatukan perbedaan. Dari yang tidak kenal menjadi kenal, yang jauh menjadi dekat, bahkan yang sebelumnya bermusuhan bisa menjadi teman,” ujarnya.
Menurut Gus Huda, Santri Ndalan terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang agama maupun status sosial.
Ia menegaskan bahwa pengamalan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi kunci menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa Indonesia.
“Kita hidup dalam negara yang memiliki beragam budaya, agama, dan latar belakang. Karena itu nilai-nilai Pancasila harus benar-benar diamalkan agar kehidupan bermasyarakat tetap harmonis,” tuturnya. ***
Jurnalis : Syahril Muadz
Editor : Redaksi





























