GROBOGAN, Lingkarjateng.id – Musim kemarau tahun 2026 berdampak pada ekonomi pertanian warga Kabupaten Grobogan. Warga bahkan terpaksa menjual sapi karena sulit mendapatkan pakan.
Petani asal Desa Asamrudung, Listiawaty, mengaku hasil panennya menurun drastis dibandingkan saat musim hujan. Jika pada musim penghujan hasil panen mencapai sekitar lima kuintal, saat kemarau menurun tinggal sekitar tiga kuintal.
“Hasil panen berkurang. Kalau biasanya saat musim labo bisa sampai lima kuintal, tapi pas musim kemarau begini paling tiga kuintal,” ungkapnya.
Menurutnya, musim kemarau ini banyak lahan yang tidak ditanami. Para petani memilih mengolah atau mencangkul tanah sebagai persiapan menghadapi musim penghujan.
Sehari-hari, Listiawaty juga harus mencari rumput untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. Namun, sulitnya mendapatkan rumput selama musim kemarau membuat keluarganya terpaksa mengurangi jumlah ternak yang dimiliki.
“Sekarang tinggal satu sapi. Kemarin ada dua, satu dijual karena musim kemarau susah pakan,” katanya.
Hal serupa dialami Sudarti (47), petani yang menggarap lahan seluas sekitar setengah hektare. Ia menyebut kekeringan telah berlangsung sekitar dua bulan dan berdampak langsung terhadap hasil panennya.
Biasanya ia mampu mendapatkan sekitar empat kuintal hasil panen, kali ini hasil yang diperoleh hanya sekitar satu setengah kuintal.
“Biasanya dapat empat kuintal, kalau ini cuma satu setengah kuintal,” ujar Sudarti.
Kekeringan juga membuat intensitas masa tanam dan panen menurun. Dalam kondisi normal, ia dapat melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun. Namun tahun ini, akibat keterbatasan air, lahan hanya bisa ditanami dua kali.
Saat musim hujan, petani biasanya menanam padi. Namun, ketika kemarau tiba dan ketersediaan air semakin terbatas, sebagian petani memilih menanam jagung atau bahkan membiarkan lahannya tidak ditanami.
Sudarti mengatakan lahan pertanian di wilayahnya tidak memiliki sumber air yang dapat diandalkan selama musim kemarau. Air hanya tersedia ketika musim hujan tiba, sementara memasuki musim kemarau kondisi lahan semakin kering.
“Sumurnya tidak ada sumbernya. Kalau ada airnya ya pas musim hujan. Kalau musim ketiga sudah tidak ada sumber air,” katanya.
Kondisi ini menunjukkan dampak kemarau tidak hanya mengancam produksi pertanian, tetapi juga kehidupan ekonomi para petani. Menurunnya hasil panen, berkurangnya masa tanam, hingga penjualan ternak menjadi gambaran bagaimana masyarakat di wilayah rawan kekeringan harus bertahan di tengah terbatasnya sumber air.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa
































