SEMARANG, Lingkarjateng.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat sebanyak 240 kasus HIV ditemukan selama periode Januari hingga Mei 2026. Tingginya angka temuan tersebut seiring dengan perluasan layanan skrining yang dilakukan pemerintah melalui fasilitas kesehatan maupun penjangkauan langsung kepada kelompok berisiko.
Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam, mengatakan peningkatan jumlah kasus yang ditemukan tidak serta-merta menunjukkan meningkatnya penularan HIV. Menurutnya, kondisi tersebut justru menandakan semakin banyak masyarakat yang berhasil dijangkau untuk melakukan pemeriksaan sejak dini.
“Kurang lebih ada 240 kasus yang ditemukan sampai Mei 2026. Dari jumlah itu, sekitar 50 persen berasal dari luar Kota Semarang,” ujar Hakam saat ditemui di kantornya, Rabu, 3 Juni 2026.
Ia menjelaskan, sebagian besar temuan kasus berasal dari hasil perluasan akses layanan skrining HIV yang terus dilakukan Dinkes Kota Semarang. Salah satu program yang dijalankan adalah LIDYA DIMARI (Layanan Tes HIV dan Layanan ARV di Malam Hari).
Melalui program tersebut, sejumlah puskesmas membuka layanan hingga malam hari guna memudahkan masyarakat, khususnya kelompok berisiko tinggi, untuk mengakses pemeriksaan kesehatan di luar jam kerja.
Beberapa puskesmas yang menyediakan layanan tersebut antara lain Puskesmas Poncol, Pandanaran, Srondol, dan Sekaran.
“Teman-teman dari kelompok risiko kami fasilitasi untuk melakukan skrining pada malam hari. Karena itu beberapa puskesmas kami buka hingga malam agar akses pemeriksaan lebih mudah,” jelasnya.
Menurut Hakam, layanan tersebut terbukti mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam melakukan pemeriksaan HIV. Selain itu, Dinkes Kota Semarang juga bekerja sama dengan berbagai organisasi nonpemerintah (NGO) yang aktif melakukan edukasi dan pendampingan terkait HIV/AIDS.
Kolaborasi tersebut membuat cakupan skrining semakin luas, tidak hanya menjangkau warga Kota Semarang tetapi juga masyarakat dari berbagai daerah lain di Jawa Tengah.
“Banyak peserta skrining yang datang dari luar Kota Semarang. Mereka memilih melakukan pemeriksaan di sini karena layanan kesehatan yang tersedia dianggap lebih mudah diakses dan nyaman,” katanya.
Selain membuka layanan di fasilitas kesehatan, Dinkes juga menerapkan strategi jemput bola dengan mendatangi sejumlah lokasi yang dianggap memiliki risiko penularan lebih tinggi. Dalam kegiatan tersebut, petugas memberikan edukasi, konseling, hingga pemeriksaan kesehatan secara langsung.
“Jadi kami tidak hanya pasif menunggu di puskesmas atau fasilitas kesehatan. Tim kami juga turun langsung ke hotspot untuk melakukan penjangkauan dan pemeriksaan,” ujarnya.
Hakam menambahkan, meningkatnya jumlah pasien yang mengakses layanan HIV di Kota Semarang juga dipengaruhi keterbatasan stok obat antiretroviral (ARV) di sejumlah daerah di Jawa Tengah. Kondisi tersebut membuat sebagian pasien memilih berobat dan mengambil obat di Kota Semarang.
“Hari ini diketahui bahwa obat ARV di beberapa daerah mengalami kekosongan. Ketika mereka datang ke tempat kami untuk mengambil obat atau berobat, tentu dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Itu juga menjadi salah satu faktor meningkatnya temuan kasus,” terang Hakam.
Ia menjelaskan, meski HIV belum dapat disembuhkan sepenuhnya, terapi ARV secara rutin terbukti mampu menekan jumlah virus dalam tubuh hingga mencapai tingkat yang sangat rendah. Dengan kondisi tersebut, penderita HIV tetap dapat menjalani kehidupan secara normal dan produktif.
Sebaliknya, pasien yang tidak disiplin menjalani pengobatan berisiko mengalami berbagai infeksi oportunistik akibat melemahnya sistem kekebalan tubuh. Salah satu penyakit yang paling sering muncul adalah tuberkulosis (TBC).
“Kalau tidak minum obat secara rutin, tubuh akan lebih mudah diserang bakteri, jamur, parasit maupun virus lain. Yang paling sering muncul pada tahap awal biasanya TBC. Kalau tidak ditangani, infeksinya bisa menyebar ke organ lain, termasuk otak,” paparnya.
Di tengah upaya peningkatan layanan kesehatan tersebut, Dinkes Kota Semarang juga mengajak masyarakat untuk menghapus stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV). Menurut Hakam, HIV tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari seperti berjabat tangan, berpelukan, menggunakan peralatan makan bersama, maupun bekerja dalam satu lingkungan.
“Yang paling penting adalah menghilangkan stigma. Karena stigma membuat teman-teman ODHIV takut, menarik diri, dan menjauh dari lingkungan sosialnya. Padahal mereka membutuhkan dukungan agar tetap menjalani pengobatan secara rutin,” tegasnya.
Selain menjalani terapi ARV, Hakam mengingatkan pentingnya menerapkan pola hidup sehat agar kualitas hidup penderita HIV tetap terjaga dan pengobatan yang dijalani dapat memberikan hasil optimal.
“Jangan sampai sudah rutin minum obat, tetapi gaya hidupnya tidak diperbaiki. Pengobatan harus dibarengi dengan pola hidup sehat agar kualitas hidup tetap terjaga, apabila hendak berhubungan jangan lupa menggunakan pengaman,” tuturnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid
































