PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Sekitar 80 petani mengikuti sosialisasi menghadapi kekeringan akibat debit air irigasi menurun di Aula Balai Desa Kalipancur, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan pada Senin, 13 Juli 2026 malam.
Para petani menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi, terutama tingginya sedimentasi pada saluran irigasi sekunder Sudikampir yang dinilai menghambat distribusi air ke lahan pertanian.
Ketua IP3A Kalijogo sekaligus Anggota Komisi Irigasi Jawa Tengah, Tangguh Prawira, mengatakan kondisi tersebut harus segera ditangani agar musim tanam kedua (MT II) dapat diselamatkan.
“Hari ini kami juga menyampaikan bahwa puncak El Nino Godzila atau kemarau panjang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September. Masyarakat harus mulai mempersiapkan diri menghadapi kondisi tersebut,” ujarnya.
Hasil musyawarah juga menyepakati perlunya normalisasi saluran irigasi sekunder yang mengalami sedimentasi cukup parah.
“Kalau saluran sekunder maupun tersier dipenuhi sedimen, tentu itu menjadi kendala besar bagi distribusi air. Karena itu masyarakat menghendaki adanya normalisasi agar air bisa sampai ke lahan pertanian,” katanya.
Tangguh menambahkan, wilayah pertanian di Kecamatan Kesesi, Bojong, dan Sragi termasuk daerah yang berpotensi terdampak kekeringan apabila kemarau panjang terus berlanjut.
Oleh karena itu, ia berharap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah maupun Pemerintah Kabupaten Pekalongan dapat segera mengambil langkah nyata.
Masyarakat berencana menggelar kerja bakti menguras sedimen di saluran Sudikampir pada Rabu, 15 Juli 2026. Namun, upaya tersebut dinilai tidak akan maksimal tanpa dukungan pemerintah.
“Kami berharap ada bantuan alat berat seperti ekskavator untuk melakukan penggalian dan pengurasan sedimen. Masyarakat tidak bisa bergerak sendiri, begitu juga pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kalipancur Muhroji mengatakan hasil musyawarah menghasilkan kesepakatan untuk menerapkan sistem pembagian air secara bergiliran agar seluruh lahan pertanian tetap memperoleh pasokan air meski debitnya terbatas.
“Karena debit airnya sedikit, kebijakan kami adalah mengatur pembagian air secara bergiliran. Yang penting semua lahan tetap mendapatkan air, sehingga hasil panen ke depan bisa tetap baik,” ujarnya.
Muhroji berharap pemerintah melalui dinas terkait segera melakukan normalisasi sedimentasi di saluran sekunder jaringan irigasi Sudikampir, khususnya yang melintasi wilayah Desa Kalipancur, sehingga kebutuhan air bagi petani dapat kembali terpenuhi.
“Harapan kami kepada dinas terkait, mohon sedimentasi di saluran sekunder jaringan irigasi Sudikampir, khususnya yang berada di wilayah Desa Kalipancur, segera dinormalisasi,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Ulfa





























