BLORA, Lingkarjateng.id – Hasil uji laboratorium sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, menemukan bakteri pada dua menu, yakni nasi putih dan tumis labu jagung pipil.
Hasil uji laboratorium itu, menyusul dugaan keracunan yang dialami 62 siswa di Kabupaten Blora pada 1 Oktober 2026, yang didistribusikan oleh SPPG Tutup di bawah naungan Yayasan Pelita Gizi Makmur.
Sekretaris Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Blora, Nur Betsia Bertawati mengatakan hasil laboratorium menunjukkan nasi putih positif mengandung bakteri Staphylococcus aureus. Sementara itu, tumis labu jagung pipil positif mengandung bakteri Bacillus sp.
“Dari hasil pemeriksaan sampel makanan, ditemukan hasil positif bakteri Staphylococcus aureus pada nasi putih dan hasil positif Bacillus sp, pada tumis labu jagung pipil,” jelasnya, Kamis, 15 Oktober 2026.
Pemeriksaan dilakukan terhadap sampel makanan dan air yang dikumpulkan pada 1 Oktober 2026. Saat itu, Puskesmas Tunjungan bersama Dinkesda Blora, turun ke lokasi untuk melakukan penyelidikan epidemiologi setelah muncul laporan dugaan keracunan MBG.
Dalam penanganan kejadian tersebut, tercatat 62 orang mengalami keluhan. Seluruhnya menjalani rawat jalan dan tidak ada yang harus dirawat inap di puskesmas maupun rumah sakit.
Sampel makanan yang diperiksa meliputi nasi putih, telur rempah kecap, tumis labu jagung pipil, susu, dan pisang. Petugas juga mengambil sampel air yang digunakan untuk memasak serta air minum.
Selain makanan, hasil pemeriksaan air PDAM menunjukkan total coliform lebih dari 200 dan Escherichia coli (E. coli) sebanyak 7. Menurut Nur Betsia, air yang memenuhi persyaratan kesehatan seharusnya tidak mengandung bakteri tersebut.
Sementara itu, sampel air galon menunjukkan total coliform sebanyak 42, sedangkan E. coli tidak ditemukan.
Belasan Siswa SD di Blora Diduga Keracunan MBG, Sampel Diperiksa
Nur Betsia juga menanggapi laporan mengenai telur rempah kecap yang disebut berbau busuk menyengat. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, sampel telur tersebut tidak menunjukkan temuan bakteri seperti pada nasi putih dan tumis labu jagung pipil.
Dia menyebut menu tersebut sebelumnya pernah disajikan kepada para penerima manfaat MBG dari SPPG yang sama. Namun, saat penyajian sebelumnya, tidak ada laporan kejadian keracunan makanan.
Terkait kemungkinan penyebab kontaminasi, Nur Betsia mengatakan sejumlah aspek perlu diperhatikan, mulai dari kebersihan, pemilihan bahan makanan, proses pengolahan, penyajian, hingga pengiriman makanan.
Adapun terkait penetapan pihak yang bertanggung jawab atas insiden keracunan tersebut, menurut dia, hal tersebut menjadi kewenangan satuan tugas (Satgas) MBG Kabupaten Blora.
“Dinkesda hanya melakukan pelaporan ke Satgas MBG,” katanya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Sekar






























