SALATIGA, Lingkarjateng.id – Anak-anak berlarian, tertawa, dan saling menyemangati saat memainkan gobak sodor. Sebagian lainnya tampak serius mencoba gundu hingga gangsingan.
Keseruan anak-anak itu menghadirkan kembali potret permainan masa kecil yang kini semakin jarang dijumpai di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Suasana tersebut terlihat saat puluhan anak Taman Kanak-Kanak (TK) di Kota Salatiga diajak mengenal dan memainkan berbagai dolanan tradisional dalam kegiatan Dolanan Bareng Bunda PAUD di Rumah Dinas Wali Kota Salatiga, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian agenda Patlikuran Kota Salatiga ini menjadi salah satu upaya mengenalkan kembali warisan permainan tradisional kepada generasi anak-anak masa kini.
Gobak sodor, gundu, sunda manda, dan gangsingan menjadi beberapa permainan yang diperkenalkan. Anak-anak tidak sekadar melihat atau mendengarkan penjelasan, tetapi juga berkesempatan mencoba langsung permainan yang dahulu akrab dengan kehidupan anak-anak Indonesia.
Di tengah kebiasaan anak yang semakin dekat dengan perangkat digital, permainan tradisional menawarkan pengalaman berbeda. Anak-anak diajak bergerak aktif, berinteraksi dengan teman sebaya, mengikuti aturan permainan, hingga belajar bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Wali Kota Salatiga Robby Hernawan bersama Bunda PAUD Kota Salatiga Retno Robby Hernawan turut berbaur dengan peserta. Robby bahkan mengajak anak-anak berinteraksi melalui kegiatan mendongeng.
Tak hanya bermain, kegiatan tersebut juga diisi senam bersama, membaca buku, mendengarkan dongeng, mewarnai, kuis interaktif, hingga pembagian hadiah. Mobil perpustakaan keliling dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinpersip) Kota Salatiga turut dihadirkan untuk mengenalkan anak-anak pada dunia literasi.
Robby mengatakan permainan tradisional memiliki nilai lebih dari sekadar hiburan. Di dalamnya terdapat pembelajaran karakter yang dapat diperoleh anak melalui pengalaman bermain secara langsung.
“Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak tidak hanya bergembira, tetapi juga belajar tentang kerja sama, keberanian, kepercayaan diri, dan kebersamaan. Kita ingin permainan tradisional tetap dikenal dan dicintai anak-anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital,” ungkapnya.
Menurutnya, pengenalan permainan tradisional sejak usia dini menjadi salah satu cara menjaga agar warisan budaya tersebut tidak hanya menjadi kenangan generasi terdahulu.
Permainan tradisional juga memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan kemampuan sosial emosional, kognitif, serta keterampilan motorik kasar dan halus. Nilai-nilai tersebut tumbuh melalui aktivitas yang dikemas secara menyenangkan.
“Melalui Dolanan Bareng Bunda PAUD, Pemkot Salatiga ingin menghadirkan ruang bermain sekaligus belajar yang lebih interaktif bagi anak-anak,” ucapnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Ulfa































