KENDAL, Lingkarjateng.id – Wakil Bupati Kendal, Benny Karnadi, memimpin kegiatan ziarah ke makam KH Asy’ari atau yang dikenal sebagai Kiai Guru di Bukit Jabal, Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Senin, 19 Oktober 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 yang diperingati setiap 22 Oktober.
Ziarah ini menjadi bentuk penghormatan terhadap jasa para ulama yang berperan dalam penyebaran agama Islam sekaligus perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
KH Asy’ari dikenal sebagai salah satu tokoh ulama yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan dakwah Islam di wilayah Kaliwungu dan Kabupaten Kendal. Keteladanan serta perjuangannya menjadi bagian dari sejarah keagamaan yang terus dikenang oleh kalangan santri dan masyarakat.
Benny mengatakan kegiatan ziarah tidak sekadar menjadi tradisi untuk menghormati para ulama, tetapi juga menjadi sarana berdoa demi kebaikan dan kemajuan Kabupaten Kendal.
“Hari ini kita melaksanakan ziarah ke makam salah satu tokoh ulama besar Kabupaten Kendal, KH Asy’ari atau yang terkenal dengan sebutan Mbah Guru Asy’ari,” ujarnya.
Menurut Benny, ziarah makam Kiai Guru menjadi salah satu agenda penting dalam peringatan HSN. Melalui kegiatan tersebut, pemerintah daerah bersama masyarakat berharap Kendal senantiasa berada dalam kondisi aman, tertib, dan kondusif.
“Kegiatan ziarah juga menjadi sarana untuk menjalin dan mempererat silaturahmi santri dan antarkomponen masyarakat,” ungkap Wabup Kendal.
Selain menjaga tradisi keagamaan, Benny mendorong para santri untuk terus meningkatkan kapasitas diri melalui penguasaan ilmu agama dan pengetahuan umum. Ia menilai, bekal tersebut penting agar santri mampu menghadapi perubahan zaman serta berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kendal, KH Mustamsikin, menyampaikan bahwa peringatan Hari Santri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ia menjelaskan, penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional menjadi pengingat bagi generasi penerus untuk menghargai jasa para ulama yang telah memberikan sumbangsih bagi bangsa dan negara.
“Setelah diputuskan bahwa tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional, kita sebagai santri harus mengingat jasa para ulama, salah satunya melalui ziarah makam,” ungkap Mustamsikin.
Mustamsikin menambahkan, berbagai kegiatan dapat digelar untuk memeriahkan Hari Santri. Namun, tradisi berziarah ke makam para ulama perlu tetap dijaga sebagai bagian dari upaya merawat ingatan terhadap sejarah perjuangan para pendahulu.
“Melalui ziarah, para santri diharapkan dapat mengenang perjuangan para kiai sekaligus meneladani semangat pengabdian para ulama dan kiai,” teganya.
Ia juga mengajak para santri untuk memperkuat semangat dalam melanjutkan perjuangan ulama melalui pendidikan, dakwah, serta keterlibatan aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
“Dengan mengingat jasa para ulama dan kiai, kita sebagai santri harus lebih semangat lagi untuk meneruskan cita-cita mereka,” pungkasnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Muslichul Basid





























