SEMARANG, Lingkarjateng.id – Asap tebal akibat kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang, Kota Semarang, berdampak ke lima kecamatan. Puluhan warga dilaporkan mulai mengalami sesak napas akibat kepulan asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah.
Lima wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Gunungpati, Mijen, Ngaliyan, Semarang Barat, hingga sebagian wilayah Tugu. Kondisi tersebut terjadi meski jumlah titik api di lokasi kebakaran mulai berkurang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono, mengungkapkan bahwa hingga hari kelima kebakaran, sebanyak 22 warga dilaporkan mengalami gangguan pernapasan akibat terpapar asap.
“Sebanyak 22 orang mengalami masalah pernapasan seperti batuk dan sesak napas. Di Kelurahan Kedungpane 15 orang, Kelurahan Tambakaji dua orang dan Kelurahan Bambankerep lima orang,” ujar Endro, Minggu, 4 Oktober 2026.
Menurut Endro, berdasarkan pemantauan menggunakan drone sekitar pukul 09.30 WIB, area yang terbakar masih sekitar 20 persen. Meski demikian, titik api di sejumlah lokasi mulai berkurang.
Secara keseluruhan, area TPA yang terdampak kebakaran meliputi zona 1 dan 2 seluas sekitar delapan hektare, serta zona 3 sekitar dua hektare.
“Api belum padam dan penanganan masih berlangsung. Titik api cenderung berkurang di beberapa titik. Penanganan terus dilakukan dengan fokus pemadaman, pendinginan, dan pengendalian agar api tidak meluas,” jelasnya.
Upaya pemadaman dilakukan dengan mengerahkan armada pemadam kebakaran dan alat berat. Di zona 1, tiga unit Damkar melakukan penyemprotan dari atas.
Sementara di sisi kiri zona 3, dua unit Damkar melakukan injeksi air, pengerukan, serta pendinginan dengan dukungan alat berat.
Sedangkan sisi kanan zona 3 ditangani tiga unit Damkar melalui penyemprotan dan dukungan alat berat.
Selain itu, delapan armada penyuplai air turut dikerahkan untuk mendukung proses pemadaman.
“Kendala-kendala proses pemadaman yakni lokasi titik api yang sulit dijangkau, akses jalan yang sempit dan titik api cepat tersebar,” ungkap Endro.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, Handi Priyanto, mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang telah membentuk tim gabungan lintas organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menangani kebakaran sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat.
Salah satu langkah percepatan pemadaman dilakukan dengan menyuntikkan air ke dalam tumpukan sampah hingga kedalaman sekitar lima sampai 10 meter.
“Ini kita lakukan agar bisa mengurangi dampak bagi masyarakat, karena polusi udara dari asap hasil kebakaran,” kata Handi.
Selain penyuntikan air, sejumlah unit Damkar juga melakukan penyiraman dari atas untuk menekan asap dan mengurangi potensi polusi udara.
Handi menambahkan, Pemkot Semarang telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait sejumlah opsi penanganan, termasuk kemungkinan penggunaan water bombing dan operasi modifikasi cuaca.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Pemkot Semarang juga menyiapkan langkah jangka panjang. Di antaranya pembangunan tempat penampungan air cadangan serta jalur hidran di kawasan TPA Jatibarang.
“Jadi secara berkala bisa dilakukan penyiraman. Lalu ada juga pembuatan jalur hidran agar DLH bisa menyiram secara berkala, karena gas metana di tumpukan sampah bisa hilang dengan air,” tandasnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Muslichul Basid






























