BLORA, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora masih mempertahankan status tanggap darurat bencana kekeringan hingga memasuki Oktober 2026. Status tersebut belum mengalami perubahan sejak ditetapkan pada awal Agustus lalu.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Blora, Widodo, menjelaskan bahwa penanganan bencana kekeringan di daerah tersebut memiliki dua tingkatan status, yakni siaga bencana dan tanggap darurat bencana kekeringan.
“Status hanya dua, yakni siaga bencana dan tanggap darurat bencana kekeringan,” ucap Widodo saat dikonfirmasi, Senin, 28 September 2026.
Penetapan status tanggap darurat dilakukan melalui keputusan yang diterbitkan pada 31 Juli 2026 dan mulai berlaku sehari setelahnya, yakni 1 Agustus 2026.
Berdasarkan data hingga penghujung September, kekeringan telah meluas ke 149 desa yang tersebar di 14 kecamatan.
Dari jumlah tersebut, 132 desa/kelurahan telah mendapatkan bantuan penanganan, baik dari BPBD maupun sejumlah pihak lain yang berkoordinasi dengan pemerintah daerah.
Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan air sehari-hari. Sektor pertanian juga turut terdampak akibat keterbatasan ketersediaan air.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Blora, Surat, mengatakan pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan sejumlah instansi untuk mengatasi persoalan kebutuhan air baku masyarakat.
Koordinasi tersebut dilakukan bersama BPBD, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, serta BBWS Bengawan Solo. Salah satu langkah yang ditempuh yakni penyaluran air bersih ke wilayah terdampak.
“Sementara ini, langkah-langkah yang kami lakukan bersama BBWS Pemali Juana melakukan dropping air bersih,” katanya.
Bantuan distribusi air bersih dari berbagai instansi telah mencapai ratusan ribu meter kubik. BBWS Pemali Juana tercatat menyalurkan sekitar 430 ribu meter kubik air, sedangkan BBWS Bengawan Solo mendistribusikan 160 ribu meter kubik.
Sementara itu, BPBD Blora telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 750 ribu meter kubik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah yang terdampak kekeringan.
Jurnalis: Lingkar Network/Eko Wicaksono
Editor: Muslichul Basid





























