Blora (lingkarjateng.id) – Setidaknya empat titik galian C di tiga kabupaten, akan menjadi support atau pendukung pematangan lahan Sekolah Rakyat permanen di Kabupaten Blora, yang dibangun di lahan eks bengkok Kelurahan Balun, Kecamatan Cepu, Blora.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) proyek pematangan lahan Sekolah Rakyat mengatakan, pihaknya bersama penyedia telah sepakat penggunaan material tanah urug harus berasal dari tambang yang berizin atau legal.
“Kita sudah lakukan survey, yang inti satu di Blora, tambahan ada tiga. Satu dari Kabupaten Grobogan dua dari Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur),” terang Anex, Jumat (14/08/2026).
Ia mengungkapkan, empat lokasi tambang yang akan mendukung pematangan lahan tersebut dipastikan telah mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP). Selanjutnya, penyedia akan melakukan pengecekan surat jalan pengiriman material di lokasi pematangan lahan Sekolah Rakyat.
“(Material tanah urug) Sampai di SR (sekolah rakyat) nanti ada Checker di lokasi,” sambungnya.
Lebih lanjut, selain penggunaan tanah urug, penggunaan bahan bakar mesin (BBM). Pihaknya juga telah mengingatkan penyedia agar tetap mematuhi kesepakatan untuk menggunakan BBM non subsidi atau BBM industri.
Ia menyebutkan dominasi pekerjaan pada pematangan lahan menggunakan alat berat. Mulai dari pengurukan, meratakan hingga pemadatan lahan.
“Pekerjaan mayor menggunakan alat berat semua, sehingga wajib menggunakan BBM non subsidi atau BBM industri. Kemarin sudah kita rekomendasikan harus ada tampungan atau DO BBM non subsidi atau BBM industri di lokasi,” terangnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan dalam proses perizinan pelaksanaan proyek. Beberapa izin telah dipenuhi, dari Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin) hingga izin Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL).
“Salah satu rekom dari andalalin, adalah bila pekerjaan lembur, harus diberikan penerangan yang memadai. Lalu lokasi-nya strategis, dekat pom bensin, jadi titik-titik rawan macet itu harus di antisipasi penyedia,” ujarnya.
Tak hanya itu, Andalalin juga memberi rekomendasi agar tidak melakukan pengiriman material pada jam pagi, saat banyak warga berangkat kerja/sekolah.
“(Dalam pengiriman) Truk material harus menghindari Konvoi truk, jadi harus ada jeda jarak, sehingga tidak menggangu arus lalulintas,” tambahnya.
Disisi lain, Anex menjelaskan saat ini proses pembuatan badan jalan menuju lokasi pengurukan. Direncanakan lebar dari drainase eksisting hingga talud penahan tanah (TPT) 12 meter, dan As Cor tengah (titik nol jalan) di cor delapan meter.
“Metodenya dari penyedia itu akan di cor separo dulu, yang separo untuk akses,” katanya.
Lebih lanjut, untuk standar kepadatan tanah urug nanti akan dilakukan tes California Bearing Ratio lapangan (CBR-lapangan) atau tes kekuatan lapisan tanah dasar.
“Standar kepadatan sendiri, untuk tanah urug itu akan dilakukan tes CBR Lapangan, minimal harus 6 persen, tapi timbunan tanah pilihan (tanah grosok) minimal 10 persen,” ungkapnya.
Ditambahkan, dalam proyek ini memiliki beberapa tantangan, terkhusus jangka waktu yang ditetapkan hanya 90 hari atau tiga bulan. Sehingga penyedia harus mampu mengerjakan sesuai jadwal yang telah dibuat, dengan asumsi tidak boleh deviasi atau minus.
“Target Mingguan bervariasi, sekitar 5 hingga 7 persen. Artinya tidak boleh meleset dari jadwal yang sudah disusun penyedia. Kalau meleset akan kita tegur,” terangnya. ***
Jurnalis : Eko Wicaksono
Editor : Redaksi































