BLORA, Lingkarjateng.id – Embung Purwosari di Desa Purwosari, Kecamatan/Kabupaten Blora, mengering saat musim kemarau 2026. Kondisi tersebut diperparah sedimentasi yang menumpuk di dasar embung sehingga kapasitas tampung air ikut berkurang.
Kondisi itu berdampak pada lahan pertanian di sekitar embung. Puluhan hektare sawah kini menghadapi persoalan ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan irigasi selama musim kemarau.
Staff Teknis OP SDA Pemali Juwana, Kholiq Maulana, mengatakan sebagian besar embung di wilayah tersebut mengalami kondisi serupa. Dari 22 embung yang ada, sekitar 14 embung atau dua pertiganya telah mengering.
“Rata-rata embung sudah mengering ada sekitar 14 embung. Upaya yang bisa kami lakukan adalah pemeliharaan dan operasional,” ujar Kholiq, Rabu, 12 Agustus 2026.
Menurut Kholiq, pemanfaatan embung yang masih memiliki persediaan air terus dioptimalkan. Sementara pemeliharaan menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk menjaga fungsi infrastruktur tersebut.
Embung Purwosari sendiri dibangun pada 2018 dan terakhir mendapatkan pemeliharaan pada 2020. Ke depan, pemeliharaan direncanakan dilakukan secara berkala, termasuk dengan mengangkat endapan lumpur atau sedimen yang terakumulasi di dasar embung.
Kholiq menjelaskan penanganan dilakukan dengan memetakan embung yang masih memungkinkan untuk dioptimalkan. Pengerukan sedimen menjadi salah satu upaya penting karena endapan yang menumpuk membuat volume tampungan air semakin berkurang.
“Embung Purwosari itu bisa menampung sekitar 50 ribu liter air dan mengaliri sekitar 50 hektare sawah,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Purwosari, Anissa Widhi Rumdani, mengatakan keberadaan embung selama ini memberikan manfaat besar bagi warga, terutama dalam memenuhi kebutuhan air pertanian ketika musim kemarau.
Namun, manfaat tersebut kini tidak maksimal karena sedimentasi telah memenuhi bagian dasar embung. Bahkan, permukaan dasar embung disebut hampir rata akibat banyaknya endapan.
“Embung ini sangat bermanfaat bagi pertanian saat kemarau seperti sekarang. Saat ini sudah banyak sedimen dan nyaris rata. Harapan kami ada pengerukan sedimen,” ujarnya.
Anissa berharap pengerukan dapat segera direalisasikan agar daya tampung Embung Purwosari kembali meningkat. Dengan kapasitas yang lebih besar, embung juga diharapkan mampu menyimpan lebih banyak air ketika musim hujan.
“Dengan demikian, keberadaan embung dapat terus mendukung kebutuhan pertanian masyarakat Desa Purwosari, terutama saat musim kemarau,” ucapnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid



































