JEPARA, Lingkarjateng.id – Kemarau panjang mulai berdampak pada sektor pertanian di Kabupaten Jepara. Sejumlah lahan pertanian di berbagai kecamatan kini kekurangan air.
Sementara hingga kini Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara masih melakukan pemetaan untuk mengetahui potensi gagal panen atau puso.
Kepala DKPP Jepara, Mudhofir mengatakan meski hampir seluruh kecamatan memiliki titik-titik lahan yang mulai mengalami kekurangan air, namun kondisi tersebut belum seluruhnya dapat dikategorikan sebagai puso.
“Kalau spot-spot kecil, itu hampir semua kecamatan ada yang mengalami kekurangan air. Tetapi kalau masuk ke definisi puso atau gagal panen, hari ini kita baru mitigasi untuk kita jadikan database,” ujar Mudhofir, Sabtu, 26 September 2026.
Ia mengungkapkan bahwa salah satu wilayah yang kerap terdampak kekeringan adalah Kecamatan Kedung.
Sedangkan untuk kondisi saat ini, kata dia, DKPP bersama penyuluh pertanian lapangan (PPL) terus melakukan pemantauan sekaligus menghitung kecukupan air bagi lahan pertanian.
“Luas lahan baku sawah (LBS) di Jepara disebut berada di kisaran 21.000 hektare. Namun, pada musim tanam ketiga, hanya sekitar 30 persen yang biasanya ditanami padi. Sementara lahan lainnya digunakan untuk tanaman yang relatif membutuhkan lebih sedikit air, seperti palawija, kacang panjang, dan mentimun,” ungkapnya.
“Fakta di lapangan ada beberapa tanaman yang kekurangan air. Jagung ada yang dua minggu tidak dapat air, akhirnya layu,” katanya.
Menghadapi kondisi tersebut, lanjut Modhofir, Pemkab Jepara telah menyiapkan sejumlah langkah mulai dari pemanfaatan sumber air, perbaikan saluran irigasi, pembuatan sumur dalam, hingga pembangunan embung.
Seperti yang ada di Desa Bringin, Kecamatan Batealit, embung yang dibangun sekitar 2020 tersebut kini menjadi sumber tambahan air bagi lahan pertanian ketika musim kemarau.
“Embung itu memiliki kapasitas sekitar 500 meter kubik dan mampu mendukung pengairan lahan sekitar 11 hektare. Kalau misalkan di masyarakat ini ada mata air seperti ini, kami harapkan diinformasikan, sehingga nanti kami rencanakan untuk kita bangun embung tanpa mengurangi fungsi penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga,” katanya.
Mudhofir menambahkan, terdapat juga sekitar 30 titik sumur dalam yang dibangun untuk membantu memenuhi kebutuhan air pertanian. Tiga diantaranya menggunakan sistem tenaga surya sebagai sumber energi untuk pompa. Menurutnya, penggunaan teknologi tersebut masih dalam tahap pengujian sebelum dikembangkan lebih luas.
“Kalau nanti nilai gunanya tinggi, maka kita akan kejar untuk program itu dibawa ke Jepara,” ujarnya.
Di samping itu, pihaknya juga terus mengedukasi petani agar tidak memaksakan menanam padi ketika ketersediaan air tidak mencukupi.
“Jangan sampai tidak ada air tapi memaksa menanam padi. Ini kita sudah edukasi. Kondisi alamnya seperti ini, jadi ini sebuah tantangan bagi kita semua,” terangnya.
Ketua Kelompok Tani Ngudi Karaharjan 1 Desa Bringin, Zainal Solikin mengatakan bahwa keberadaan embung sangat membantu petani, terutama saat musim kemarau.
Menurutnya, air dari sumber yang ada dapat ditampung terlebih dahulu di embung, kemudian disedot untuk mengairi lahan pertanian di bawahnya. Kondisi tersebut membuat debit air yang diterima lahan menjadi lebih cepat dan mencukupi.
“Memang sangat dibutuhkan. Kalau musim pengering, ini disedot terus untuk mengaliri tanaman yang ada di bawah,” kata Zainal.
Ia menyebut sekitar 20 petani memanfaatkan sumber air dari embung tersebut dengan luasan lahan kurang lebih 11 hektare.
“Kalau ada embung ini kan bisa dibantu disedot, terus bisa tambah debit. Jadi bisa cepat untuk mengairi,” ujarnya.
Zainal menambahkan, pola tanam petani di wilayahnya lebih banyak mengandalkan palawija, sedangkan padi biasanya hanya ditanam sekali.
Jurnalis: Tomi Budianto
Editor: Sekar






























