Salatiga (lingkarjateng.id) – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Kota Salatiga mengungkap persoalan yang terus berulang setiap tahun. Dari evaluasi, daya tampung sekolah menengah pertama (SMP) ternyata lebih besar dibanding jumlah lulusan sekolah dasar (SD).
Sehingga masih ada sejumlah sekolah kekurangan siswa meski proses penerimaan peserta didik telah selesai. Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Salatiga, Mudjiati mengatakan, secara umum pelaksanaan SPMB tahun ini berjalan lancar dan tidak ada komplain resmi soal sistem penerimaan.
“Secara sistem sudah baik, tidak ada komplain setelah selesai. Kalau ada yang merasa tidak puas tentu ada, misalnya karena ingin masuk sekolah tertentu tetapi tidak diterima. Namun secara resmi semuanya sudah sesuai aturan,” ujarnya saat ditemui wartawan, Rabu 17 Juni 2026.
Meski demikian, kata dia, hingga kini Dinas Pendidikan masih melakukan evaluasi karena terdapat sejumlah sekolah yang belum memenuhi kuota peserta didik baru. Untuk sekolah yang masih kekurangan siswa, pendaftaran tetap dibuka secara offline.
Dia menjelaskan, saat ini masih ada tiga SMP negeri yang belum memenuhi kuota. Namun jumlah kekurangannya relatif kecil. “Ada yang kurang sembilan siswa, ada yang kurang sekitar 20 siswa, dan ada yang kurang 28 sampai 30 siswa,” ungkap Mudjiati.
Menurut Mudjiati, sekolah yang belum memenuhi kuota tetap diperbolehkan menerima pendaftaran hingga kursi yang tersedia terisi. Tidak ada batas waktu khusus selama kuota masih tersedia.
“Anak-anak yang belum mendapatkan sekolah kami arahkan ke sekolah yang kuotanya masih ada. Pendaftaran offline masih dibuka sampai kuota terpenuhi,” jelasnya.
Ditegaskan bahwa proses pembelajaran tetap akan berjalan normal meskipun terdapat rombongan belajar (rombel) yang tidak terisi penuh. “Rombel tidak penuh tetap berjalan. Anak-anak harus segera masuk dalam sistem Dapodik dan proses pembelajaran tetap berlangsung,” tegasnya.
Mudjiati mengungkapkan, salah satu penyebab utama masih adanya sekolah yang kekurangan siswa adalah ketidakseimbangan antara daya tampung SMP dan jumlah lulusan SD di Kota Salatiga.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan, daya tampung SMP di Salatiga mencapai sekitar 3.600 kursi. Sementara jumlah lulusan SD setiap tahun hanya sekitar 2.500 siswa. “Daya tampung SMP memang lebih besar dibanding jumlah lulusan SD. Kondisi ini membuat potensi kekurangan siswa hampir selalu terjadi setiap tahun,” ungkapnya.
Selain itu, bertambahnya sekolah baru juga ikut meningkatkan jumlah kursi yang tersedia sehingga persaingan mendapatkan siswa semakin ketat. Mengatasi hal tersebut, Disdik akan mengevaluasi bersama sekolah-sekolah yang belum memenuhi kuota agar daya tarik masyarakat meningkatkan.
“Kami akan mengevaluasi pola-pola yang bisa meningkatkan daya jual sekolah supaya masyarakat lebih berminat menyekolahkan anaknya di sana,” katanya.
Di sisi lain, keberadaan siswa dari luar Kota Salatiga turut membantu pemenuhan kuota di beberapa sekolah, terutama yang berada di wilayah perbatasan kota.
“Sekolah yang berada di wilayah pinggiran cukup terbantu oleh pendaftar dari luar kota. Selama kuota masih tersedia dan memenuhi ketentuan jarak, mereka bisa diterima,” pungkasnya. ***
Jurnalis : Angga Rosa
Editor : Fian

































