SALATIGA, Lingkarjateng.id – Aroma dupa memenuhi ruang tamu rumah Doni Prasetyo di kampung Butuh, Kelurahan Kutowinangun Lor, Kota Salatiga pada Senin, 15 Juni 2026 malam. Di ruangan sederhana itu, puluhan keris berjajar rapi menunggu giliran menjalani ritual jamasan keris pada malam 1 Suro.
Di atas meja telah tersedia bambu berisi air kembang dan tumpukan jeruk nipis yang menjadi perlengkapan utama dalam prosesi tersebut. Asap dupa yang mengepul perlahan menambah suasana khidmat selama ritual berlangsung.
Usai salat Isya, Doni mulai mengeluarkan satu per satu keris dari warangka. Dengan telaten, ia menggosok bilah keris menggunakan jeruk nipis untuk menghilangkan kotoran sekaligus mengembalikan kilau logam yang mulai kusam.
Setelah dibersihkan, keris dicuci menggunakan air kembang sebelum dikeringkan dan dikembalikan ke sarungnya. Seluruh proses dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar kondisi pusaka tetap terjaga.
Dalam setiap tahapan jamasan, doa-doa dipanjatkan sebagai harapan akan keselamatan, keberkahan, dan kebaikan bagi pemilik pusaka. Nilai spiritual tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Para pemilik keris tampak duduk bersila menyaksikan jalannya prosesi. Mereka menunggu dengan sabar saat pusaka miliknya dibersihkan. Sesekali terdengar percakapan ringan, namun suasana tetap terasa khusyuk.
Malam semakin larut, sementara puluhan keris masih menunggu giliran untuk di jamas. Satu per satu pusaka selesai dibersihkan dan dikembalikan kepada pemiliknya.
Hingga menjelang tengah malam, aroma dupa masih memenuhi ruangan. Di bawah temaram lampu rumah, Doni terus merawat pusaka-pusaka yang menyimpan jejak sejarah, kenangan, dan nilai budaya yang tak ternilai.
Ini salah satu tradisi yang masih dijaga sebagian masyarakat Jawa hingga kini. Namun bagi sebagian masyarakat Jawa, jamasan bukan sekadar kegiatan membersihkan benda pusaka. Tradisi yang rutin dilakukan saat malam 1 Suro itu juga sarat makna sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.
Menurut Doni, tradisi jamasan juga menjadi momentum untuk mengingat kembali pentingnya menjaga peninggalan budaya Jawa agar tidak hilang ditelan zaman. Keris tidak hanya dipandang sebagai benda bersejarah, tetapi juga simbol identitas budaya yang memiliki nilai seni dan filosofi tinggi.
“Tradisi jamasan keris pada malam 1 Suro ini menjadi bukti bahwa di tengah perkembangan zaman, sebagian masyarakat masih berupaya menjaga dan melestarikan warisan leluhur sebagai bagian dari identitas budaya Jawa yang terus hidup dari generasi ke generasi,” katanya.
Jurnalis: Angga Rosa





























