Blora (lingkarjateng.id) – Puluhan nasabah koperasi BMT BUS Blora melapor ke polisi gegara dana tabungan dan deposito mereka tak kunjung bisa dicairkan. Koperasi berpusat di Lasem, Rembang itu diduga bermasalah sejak 2023 silam, kerugian nasabah mencapai Rp4,2 Miliar.
Salah satu nasabah juga pelapor, Wijianto mengungkapkan bahwa para nasabah mengalami kesulitan menarik dana sejak awal 2023.
Kondisi itu semakin parah setelah pihak koperasi menutup buku di akhir tahun yang sama. “Waktu itu dijanjikan pengembalian dana maksimal tiga tahun. Tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan,” ujar Wiji yang berprofesi Dokpol Klinik Polres Blora, Rabu (20/05/2026).
Menurut dia, para korban tersebar di sejumlah wilayah di Kabupaten Blora. Di antaranya Kecamatan Blora Kota, Randublatung, Cepu, Ngawen, hingga Kunduran. Dari pendataan sementara, terdapat sekitar 42 nasabah dengan total kerugian mencapai Rp4,22 miliar.
Nilai kerugian masing-masing korban bervariasi. Mulai Rp100 juta hingga lebih dari Rp1 miliar. Dana yang tersimpan berbentuk tabungan maupun deposito.
Wiji sendiri mengaku mengalami kerugian hingga Rp1,248 miliar. Dana tersebut disimpan sejak 2022 lalu. Namun hingga kini tidak bisa dicairkan sepenuhnya. “Pernah ambil hanya Rp500 ribu dari simpanan lebih dari Rp1 miliar pada tahun 2024,” katanya.
Ia mengungkapkan, komunikasi terakhir dengan pengurus koperasi terjadi saat Rapat Anggota Tahunan (RAT) di Lasem, Rembang, pada 2024 lalu. Dalam pertemuan tersebut, pengurus kembali menjanjikan pengembalian dana dalam kurun waktu tiga tahun.
Namun setelah itu para pengurus sulit dihubungi. “Sekarang sudah lost contact. Kantor-kantor cabangnya juga tidak jelas operasionalnya,” imbuhnya.
Di Kabupaten Blora, kantor cabang BMT BUS diketahui berada di kawasan Cepu kemudian di Kecamatan Blora kota, tepatnya di samping Laboratorium Patra Medica.
Sementara di Kecamatan Ngawen berada di dekat SPBU. Meski bangunan kantor masih ada, aktivitas operasional sudah tidak terlihat.
Para korban juga mulai melaporkan sejumlah nama pengurus yang tercantum dalam akta notaris. Yaitu, Ketua Umum Abdullah Yazid, Ketua I Muhammad Yuson Rusdiono, Zulkifli Lubis, M Fakih Zuhdi, Sekretaris Rahmad, serta Bendahara Muhammad Zuhri.
Para nasabah berharap laporan yang disampaikan ke aparat penegak hukum bisa menjadi jalan keluar agar dana mereka dapat kembali.
Mereka juga menyebut kasus serupa diduga terjadi di berbagai daerah lain di Jawa, Bali hingga Kalimantan. “Informasinya total ada sekitar 374 ribu nasabah. Minggu ini rata-rata korban mulai melapor di wilayah masing-masing,” tandasnya. ***
Jurnalis : Eko Wicaksono
Editor : Fian































