SALATIGA, Lingkarjateng.id – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Salatiga didominasi kelompok usia produktif.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Salatiga Suhardi mengungkapkan hingga minggu kedua Mei 2026 tercatat 1 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), 19 kasus Demam Dengue, dan 2 kasus Dengue Shock Syndrome di Salatiga. Berdasarkan kelompok usia, kasus didominasi usia produktif 15–44 tahun dengan 9 kasus.
“Selain itu terdapat 4 kasus usia 1–4 tahun, 5 kasus usia 5–14 tahun, dan 4 kasus usia di atas 44 tahun,” ungkapnya dalam pertemuan Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD Kota Salatiga di Kantor Setda, Selasa, 19 Mei 2026.
Dari sisi jenis kelamin, penderita perempuan tercatat lebih banyak yakni 61 persen atau 13 orang. Sedangkan laki-laki sebanyak 39 persen atau 9 orang.
Menurut Suhardi, data tersebut menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat pemantauan jentik dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara berkala.
“Kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci utama dalam memutus mata rantai penularan DBD di Kota Salatiga,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Salatiga Robby Hernawan menegaskan bahwa DBD masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Menurutnya, perubahan iklim, tingginya mobilitas warga, serta kondisi lingkungan yang kurang bersih menjadi faktor yang meningkatkan risiko penularan.
“Pengendalian DBD tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi memerlukan kolaborasi lintas sektor, sinergi yang kuat antar pemangku kepentingan, serta partisipasi aktif masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.
Robby meminta seluruh jajaran pemerintah hingga tingkat kelurahan memperkuat edukasi dan pemberdayaan masyarakat melalui gerakan 3M Plus.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala awal DBD agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Ulfa































