BLORA, Lingkarjateng.id – Sebanyak 349 roti yang menjadi bagian dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 5 Blora dikembalikan ke pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) karena ditemukan sudah berjamur dan beraroma tidak segar, Selasa, 24 Februari 2026.
Roti itu didistribusikan oleh SPPG Yayasan As-Sanusiyyah yang berlokasi di Desa Kamolan, Kecamatan Blora Kota.
Kepala SMPN 5 Blora, Widianto, menyampaikan pihak sekolah memutuskan tidak membagikan ratusan roti tersebut setelah dilakukan pengecekan internal sebelum pendistribusian kepada siswa.
“Seperti biasa kami cek dulu sebelum MBG dibagikan. Setelah kami cek ada, satu jenis roti yang menurut kami itu terindikasi ada jamurnya. Oleh karena itu kami bersepakat roti itu untuk disisihkan (pisahkan),” ujar Widianto saat ditemui di SMPN 5 Blora.
Menurutnya, roti tersebut merupakan bagian dari menu untuk tiga hari. Setelah diperiksa, tampak jamur berwarna hijau pada permukaan roti disertai bau tidak sedap. Atas temuan itu, pihak sekolah memutuskan tidak menyalurkan roti kepada siswa.
Ia menegaskan, pemeriksaan tidak hanya dilakukan pada roti, tetapi juga pada tanggal kedaluwarsa susu dan kondisi buah yang turut didistribusikan dalam paket MBG.
“Insyaallah (roti) akan kami kembalikan. kami hanya membantu untuk keamanan anak-anak saja,” tambahnya.
Pihak sekolah mengaku telah melaporkan temuan tersebut kepada SPPG Yayasan As-Sanusiyyah. Namun, Widianto menyebut dirinya tidak mengetahui respons lebih lanjut dari pihak dapur karena tidak tergabung dalam grup komunikasi yayasan.
“Hanya diminta untuk menyisihkan (memisahkan). Tidak mungkin saya mengatakan rotinya ada jamurnya tapi rotinya tidak ada (bukti),” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa sekolah tidak menuntut penggantian roti yang tidak dibagikan. Menurutnya, kewenangan tersebut berada di pihak penyedia makanan.
“Saya tidak jual beli dengan pihak dapur. Kami menerima maka, dan kami tidak mempunyai hak komplain. Biar dapurnya kalau mau mengganti silakan, bukan hak saya untuk komplain,” jelasnya.
Widianto menyatakan sikap tersebut diambil karena pihak SPPG dinilai memiliki kompetensi dalam menghitung kandungan gizi pada menu yang disediakan.
“Toh saya tidak tau nilainya apa, nilainya apa. bukan urusan saya. yang terpenting secara administrasi sudah baik,” katanya.
Ia menambahkan, sebelum memutuskan tidak mendistribusikan roti, pihaknya telah menyampaikan temuan tersebut kepada dapur penyedia MBG.
“Pihak dapur, ini makanan yang kamu bagikan ada indikasi, ada jamurnya. Ini (makanan) tidak saya bagikan ya. Seperti itu saja, saya ijin ke pihak dapur,” ujar Widianto.
Sementara itu, saat awak media mendatangi lokasi dapur SPPG Yayasan As-Sanusiyyah untuk meminta klarifikasi, pihak yayasan belum memberikan keterangan terkait temuan roti berjamur tersebut.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid





























