SALATIGA, Lingkarjateng.id – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Salatiga akan menerapkan kembali sistem enam hari sekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri mulai Senin, 5 Januari 2026.
Kepala Disdik Kota Salatiga, Muh Nasiruddin, menyatakan penerapan enam hari sekolah diambil untuk mengembalikan efektivitas pembelajaran di kelas. Pasalnya, pembelajaran lima hari sekolah dinilai belum optimal.
“Sistem lima hari sekolah yang sudah diterapkan, kan sifatnya baru uji coba. Jadi nanti akan kita cabut dulu, kita tetapkan kembali menjadi enam hari sekolah,” terang Nasiruddin di Salatiga, Selasa, 30 Desember 2025.
Menurutnya, surat edaran mengenai penerapan enam hari sekolah sudah disampaikan kepada seluruh sekolah negeri. Sementara untuk sekolah swasta, Disdik tidak mewajibkan mengikuti kebijakan tersebut.
“Efektif berlaku mulai 5 Januari 2026 untuk SD dan SMP negeri. Sekolah swasta punya kewenangan sendiri,” ucapnya.
Lebih lanjut, Nasiruddin menjelaskan adanya tambahan hari belajar tidak otomatis menambah beban siswa.
Ia menyebut sejumlah mata pelajaran akan dipindah ke hari Sabtu sehingga jam pulang di hari-hari sebelumnya bisa lebih awal.
Nasiruddin menyatakan sejauh ini belum ada laporan penolakan dari sekolah maupun orang tua terkait kebijakan tersebut.
“Kalau nanti ada pro kontra itu wajar. Pasti kalau ada aturan yang kita berlakukan, ada yang setuju dan tidak setuju,” tegasnya.
Sementara itu, sebagian orang tua mengaku masih bingung apakah format enam hari sekolah akan lebih menguntungkan atau sebaliknya.
Arista, salah satu orang tua siswa, mengatakan anaknya sudah terbiasa dengan ritme lima hari sekolah sehingga memerlukan waktu adaptasi.
“Sebagai orang tua yang bekerja, saya setuju lima hari sekolah karena Sabtu-Minggu masih ada waktu istirahat dan membersamai anak. Anak Sabtu juga bisa istirahat sambil mengerjakan tugas sekolah,” ucapnya.
Meski begitu, Ariesta mengaku tidak akan menolak kebijakan tersebut jika diterapkan. Menurutnya, aktivitas anak di luar sekolah juga tidak terlalu terdampak.
“Sore hari masih ada waktu untuk main dan juga les. Jadi masih bingung, ada plus dan minusnya,” tuturnya.
Hartatik, wali murid lainnya, justru menyambut baik kembalinya enam hari sekolah.
Ia menilai jam pulang yang lebih cepat membuat waktu sore anaknya bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk mengembangkan minat dan kegiatan keagamaan.
“Kalau enam hari sekolah kan pulangnya lebih cepat. Jadi setiap hari masih ada waktu untuk anak yang suka sepak bola dan untuk belajar mengaji,” katanya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Rosyid





























