KAB. SEMARANG, Lingkarjateng.id – Produk batik ecoprint dari Tim Penggerak PKK Kelurahan Karangjati, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, mendapat dukungan penuh dari anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dan DPRD Kabupaten Semarang.
Mereka kompak mendorong agar batik berbasis pewarna alami ini berkembang menjadi produk unggulan daerah yang mampu menembus pasar nasional, bahkan internasional.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Bagus Suryokusumo, menyebut karya ibu-ibu PKK Karangjati sangat potensial menembus pasar nasional dan menjadi ikon batik di Kabupaten Semarang.
Ia menilai, tantangan seperti biaya produksi tinggi dan keterbatasan alat harus diatasi melalui sinergi antara DPRD dan pemerintah daerah.
“Saya ingin ecoprint dari sini bisa menembus pasar nasional, bahkan internasional, sehingga harus dipikirkan bersama cara-cara untuk memajukan batik ecoprint ini,” ujarnya saat menghadiri pameran ecoprint di Balai Kelurahan Karangjati, Senin, 20 Oktober 2025.
Bagus bahkan berencana menampilkan karya batik ecoprint Karangjati dalam ajang fashion show antarpelajar se-Kabupaten Semarang dan Salatiga pada 21 Desember 2025 mendatang.
Senada, Anggota DPRD Kabupaten Semarang, Ari Dwi Setyanto, menyebut ecoprint sebagai produk UMKM dengan nilai ekonomi tinggi.
Ia akan mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang untuk memberikan pelatihan, permodalan, dan dukungan pemasaran secara berkelanjutan.
“Batik ecoprint ini potensi ekonominya sangat menjanjikan, dengan begitu Kabupaten Semarang bisa menjadikan batik ecoprint ini sebagai ikon,” katanya.
Ketua PKK Karangjati, Sutanti, menyebut kini sudah ada 11 pengrajin batik ecoprint aktif yang tersebar di sembilan RW. Sejak Juli 2025, geliat ecoprint Karangjati mulai tampak melalui berbagai pameran dan penjualan daring.
“Mereka sudah mulai jual lewat pameran dan juga online, seperti TikTok. Dan sejak Juli 2025, geliat batik ecoprint Karangjati semakin terasa,” katanya.
Sementara itu, salah satu pengrajin batik ecoprint, Novita (38), mengaku senang dapat memperkenalkan produknya ke masyarakat.
Bermula dari pelatihan PKK, kini ia telah memiliki merek sendiri bernama Daunara, dengan produk seperti syal, tas, hingga pakaian berbahan pewarna alami.
“Sebelumnya saya hanya anggota PKK biasa dan ikut pelatihan ecoprint ini. Lalu saya juga lihat di internet, kok bagus dan bisa menghasilkan,” ujarnya.
Jurnalis: Hesty Imaniar
Editor: Rosyid





























