BATANG, Lingkarjateng.id — Insiden keracunan massal terjadi di Dukuh Rowosoko, Desa Rowobelang, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang. Indikasi keracunan diduga setelah warga mengonsumsi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dari kegiatan Posyandu.
Tercatat 34 warga mengalami gejala keracunan. Korban merupakan kelompok masyarakat lanjut usia hingga balita.
Camat Batang, Luksono Pramudito, membenarkan adanya indikasi keracunan massal di Dukuh Rowosoko.
Menurutnya, kronologis dugaan keracunan bermula saat pelaksanaan Posyandu Lansia dan Balita di Posyandu Mawar (RT 1, RT 2/RW 2) pada Senin, 21 September 2026 sore.
“Kegiatan Posyandu yang seharusnya dilaksanakan Senin pagi diundur ke sore hari karena ada warga yang meninggal dunia. Namun, menu PMT tersebut sudah dimasak sejak pagi hari,” ujar Luksono, Selasa, 22 September 2026.
Adapun menu PMT yang dibagikan meliputi bubur kacang hijau, tahu bacem, dan roti tawar. Makanan tersebut bersumber dari anggaran Dana Desa yang dikelola. Penyajian PMT diurus oleh kader kesehatan desa setempat.
Luksono menjelaskan bahwa gejala keracunan baru dirasakan warga pada Senin malam sekitar pukul 21.00 WIB. Sejumlah warga mengeluhkan mual, pusing, hingga diare.
“Malam hari warga mulai merasakan gejala dan berdatangan ke RSUD Kalisari. Karena gejalanya sama, kami langsung melakukan tindakan penanganan cepat,” terangnya.
Untuk penanganan dugaan keracunan massal, petugas gabungan dari Polsek, pihak Kecamatan, Pemerintah Desa, Puskesmas Batang 3, hingga jajaran Dinas Kesehatan dan Direktur RSUD Kalisari langsung turun ke lokasi.
Sebagian korban langsung dirujuk ke IGD RSUD Kalisari untuk perawatan intensif, sementara warga yang mengalami gejala ringan dirawat di Musala Al-Ikhlas oleh tim medis Puskesmas Batang 3.
Beberapa warga juga telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik.
Menurut keterangan Kapolsek Batang Kota, Hozali, mengatakan bahwa korban yang mengalami gejala keracunan menyebut PMT yang dikonsumsi ada rasa asam.
“Saya tanya sama korbannya, rasanya kecut. Itu peruntukannya harusnya pagi hari, tapi karena ada warga yang meninggal, diundur dibagikan sore hari,” terangnya.
Saat ini, sampel makanan PMT telah diamankan dan dibawa oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Batang ke laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti keracunan.
Editor: Ulfa






























