Batang (lingkarjateng.id) – Di tengah derasnya investasi industri, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dituntut tak sekadar terampil, tetapi juga bermental baja dan berkarakter kuat agar tidak “tumbang” di tengah jalan.
Pesan menohok ini mengemuka dalam forum Ngopeni SMK yang berlangsung di kawasan KEK Industropolis di Kabupaten Batang pada Kamis (20/8/2026). Hadir dalam pertemuan tersebut pemangku kebijakan pendidikan dan pelaku industri.
Dalam forum tersebut menyoroti fenomena tingginya angka bongkar-pasang pekerja (turnover) lulusan SMK di Jawa Tengah yang menyentuh angka 4 hingga 10 persen.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Sadimin mengaku prihatin atas maraknya lulusan SMK yang keluar sebelum masa kontrak kerja usai. Masalah etos kerja, daya juang yang melempem, hingga persoalan kedisiplinan disinyalir menjadi pemicunya.
“Ngopeni SMK ini dengan tujuan bagaimana anak-anak SMK itu memiliki karakter yang unggul. Selain kompetensi yang unggul, juga karakter yang unggul,” kata Sadimin saat ditemui di KEK Industropolis Batang.
Ia juga menekankan, pentingnya melatih fisik dan mental para siswa sejak dini agar tahan menghadapi kenyataan keras di lapangan. Tuntutan industri sering kali membutuhkan ketahanan ekstra yang jauh berbeda dari suasana sekolah.
“Tidak istilahnya itu leda-lede, tidak mletre. Maka kalau bekerja ya harus tahan lama. Berdiri itu delapan jam ya biasanya, harus kuat itu. Kalau tidak kuat kan repot, maka cara fisiknya harus kita kuatkan,” tegasnya.
Untuk menjembatani celah ini, sejumlah sekolah mulai menggandeng TNI guna menempa kedisiplinan peserta didik. Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua III DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh, mendorong agar ruang dialog seperti ini masif digelar di seluruh wilayah.
Menurutnya, pergerakan teknologi saat ini sangat cepat mengubah peta kebutuhan tenaga kerja. “Banyak ke depan pekerjaan-pekerjaan yang mungkin akan hilang, pekerjaan-pekerjaan baru pun juga pasti akan muncul. Saya kira forum semacam ini sangat perlu,” jelasnya.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Batang menyambut hangat langkah sinkronisasi tersebut. Kehadiran KEK Industropolis Batang membutuhkan pasokan tenaga kerja terampil yang siap pakai dan tahan banting.
“Penyesuaian kurikulum hingga pembaruan alat praktik di SMK menjadi kunci utama agar siswa tidak hanya lulus, tetapi langsung terserap optimal,” tegas Bupati Batang M Faiz Kurniawan.
“Ini akan mentrigger link and match antara kebutuhan industri dengan kurikulum SMK. Sehingga kita berharap ke depan lulusan SMK ini benar-benar langsung bisa terabsorb,” tandasnya. ***
Editor : Redaksi






























