BATANG, Lingkarjateng.id – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Batang melalui Bidang Pengairan memperkuat upaya pengendalian banjir dan rehabilitasi jaringan irigasi. Langkah tersebut difokuskan untuk mendukung akselerasi ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Kepala DPUPR Kabupaten Batang, Endro Suryono, mengatakan pihaknya kini menerapkan Flowchart Penanganan Pengendalian Banjir. Melalui mekanisme ini, alur birokrasi penanganan darurat dapat dilakukan lebih cepat.
“Target kami, penanganan darurat dapat dilakukan maksimal satu hari setelah laporan diterima,” ujar Endro di Kantor DPUPR Kabupaten Batang, Rabu, 15 Juli 2026.
Ia menjelaskan, masyarakat dapat menyampaikan laporan melalui WhatsApp, Instagram, maupun website resmi DPUPR. Setiap laporan akan diverifikasi oleh admin yang terdiri atas Kepala Bidang Pengairan dan Kepala UPTD Wilayah sebelum diteruskan kepada tim siaga untuk segera melakukan penanganan di lapangan.
Adapun tim siaga bertugas mengidentifikasi titik banjir, melakukan penanganan darurat, serta menyusun administrasi dan dokumentasi. Setelah itu, DPUPR menindaklanjuti dengan langkah mitigasi jangka panjang berupa perbaikan sementara, penyusunan perencanaan konstruksi, hingga pengajuan usulan kegiatan.
Selain mempercepat penanganan banjir, ia menyatakan DPUPR Batang juga terus mengawal pelaksanaan sejumlah proyek rehabilitasi jaringan irigasi di berbagai wilayah. Di antaranya rehabilitasi Bendung Saluran Irigasi Perek di Kecamatan Pecalungan senilai sekitar Rp614,1 juta yang telah mencapai progres fisik 27,77 persen dan ditargetkan mendukung pengairan lahan seluas 12,10 hektare.
Proyek lainnya, kata dia, meliputi rehabilitasi jaringan irigasi Lengkong di Kecamatan Bawang dengan progres 9,43 persen, Irigasi Pule 1 di Desa Sidoharjo, Kecamatan Bawang sebesar 38,42 persen untuk melayani sekitar 30 hektare lahan, Irigasi Gondang Andap di Desa Adinuso, Kecamatan Reban yang telah mencapai 53,21 persen, Irigasi Gawak di Desa Tembok, Kecamatan Limpung sebesar 35,79 persen, serta Irigasi Niram di Desa Siguci, Kecamatan Pecalungan dengan progres 21,26 persen.
Sementara itu, sejumlah pekerjaan rehabilitasi irigasi di Desa Gandoo A Jatisari dan Desa Tenggulanharjo, Kecamatan Subah, telah mencatat progres di atas 90 persen dan mendekati tahap penyelesaian.
Endro berharap penerapan sistem pengaduan cepat dan pengawasan ketat terhadap proyek rehabilitasi irigasi mampu menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian sekaligus menekan risiko banjir.
“Melalui sistem aduan cepat satu hari dan pengawasan ketat terhadap progres pekerjaan fisik, kami optimistis ketersediaan air untuk pertanian tetap terjaga sekaligus mengurangi risiko banjir yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi masyarakat,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Sekar






























