Blora (lingkarjateng.id) – Tiga rumah di Kabupaten Blora menjadi sasaran program bantuan bedah rumah bagi rumah tidak layak huni. Program tersebut diinisiasi oleh Polres Blora dengan menggandeng Baznas pada momentum Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026.
Kapolres Blora, AKBP Wawan Andi Susanto, mengatakan kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian dan semangat kemanusiaan. Dengan harapan bantuan tersebut dapat bermanfaat langsung kepada masyarakat, yang selama ini masih bertahan hidup di rumah tidak layak.
“Bantuan ini membuat rumah menjadi layak huni, sehat, dan membawa keberkahan bagi keluarga penerima,” ujar Kapolres Blora saat mengunjungi penerima manfaat di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Senin (15/06/2026).
Dikatakan, bantuan tersebut menyasar tiga titik sasaran. Yaitu di Desa Palon, Kecamatan Jepon untuk Sukarjan, lalu di Kelurahan Bangkle, Kecamatan Blora kota untuk Ngatmi dan terakhir Desa Buluroto Kecamatan Banjarejo untuk Karmini.
“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Baznas Kabupaten Blora serta didampingi oleh Camat Banjarejo yang turut mendukung kegiatan ini,” ujarnya.
Terkait kebutuhan sarana dasar yang belum tersedia di rumah yang dikunjungi di Desa Buluroto Kecamatan Banjarejo, seperti sambungan listrik hingga air bersih. Kapolres Blora akan mengawal hingga kebutuhan tersebut ada di rumah penerima manfaat.
“Setelah kondisi rumah benar-benar layak huni, kami akan segera berkoordinasi dengan PLN dan PDAM untuk memproses pemasangan pasokan listrik serta air bersih agar kebutuhan dasar warga terpenuhi,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Baznas Blora, Sutaat, mengapresiasi sinergi kepolisian dalam pengentasan kemiskinan di Kabupaten Blora. Sehingga program dari Baznas dapat tepat sasaran. “Kolaborasi ini luar biasa, tepat sasaran untuk warga yang memang membutuhkan,” ujarnya.
Dilokasi terpisah, Kepala Desa Buluroto, Margono juga menyampaikan terimakasih atas sinergi Polres Blora bersama Baznas yang peduli terhadap kondisi warga desanya.
Lebih lanjut, Margono mengungkapkan kasus serupa seperti rumah Karmini yang belum memiliki meteran listrik PLN masih banyak di Desa Buluroto. Sehingga memaksa warga untuk ikut nyambung ke tetangga samping rumah.
“Kalau saya hitung sekitar masih ada 25 rumah atau keluarga yang belum terpasang meteran,” ujarnya.
Lebih lanjut, Margono mengungkapkan hingga saat ini jaringan aliran PDAM belum ada di desa Buluroto. Namun Pamsimas atau aliran air bersih yang dikelola pihak desa ada, tapi belum mencukupi untuk kebutuhan keseluruhan masyarakat.
“Jaringan PDAM di sini tidak ada. Tapi kalau dari desa ada (Pamsimas),” singkatnya.
Menanggapi kondisi masyarakat yang masih belum memiliki meteran hingga jaringan PDAM, Camat Banjarejo, Heksa Wisamningsih, berkomitmen akan melakukan pemetaan di setiap desa dan dilakukan koordinasi kepada organisasi perangkat daerah (OPD) yang menangani.
“Ini (jaringan PLN dan PDAM) menjadi perhatian kami, kami akan mengkoordinasikan ke pihak-pihak terkait. Agar ada bantuan masuk ke wilayah kami,” ujarnya.
Pihaknya berharap, kondisi pelayanan dasar masyarakat di Kecamatan Banjarejo dapat segera terselesaikan. Sehingga kebutuhan masyarakat tidak terkendala. “Kita upayakan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat Banjarejo menjadi perhatian OPD teknis,” katanya. ***
Jurnalis : Eko Wicaksono
Editor : Redaksi































