BATANG, Lingkarjateng.id – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang melalui Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) mengintensifkan pemeriksaan kesehatan hewan kurban di berbagai titik penjualan ternak. Langkah ini dilakukan untuk memastikan hewan yang beredar di masyarakat dalam kondisi sehat dan layak disembelih.
Dalam pemantauan terbaru, Dispaperta Batang menemukan tiga ekor sapi di Kecamatan Warungasem yang terindikasi terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Ketiga sapi tersebut diketahui merupakan hewan kiriman dari Jawa Timur.
Dokter Hewan Dispaperta Batang, Ambar Puspitaningsih, mengatakan pihaknya telah mengambil langkah cepat dengan melakukan uji laboratorium terhadap sampel hewan tersebut.
“Sudah kami ambil sampel swab dan dikirim ke Balai Veteriner Semarang untuk pemeriksaan laboratorium. Sementara rekomendasi kami dipisahkan dari hewan lain, diobati hingga sembuh, dan tidak dijual untuk kurban tahun ini,” ungkapnya.
Selain PMK, Dispaperta juga mengantisipasi potensi penyebaran Lumpy Skin Disease (LSD). Meski demikian, tren kasus kedua penyakit tersebut di wilayah Batang disebut mulai menunjukkan penurunan.
“Fokus kami masih PMK dan LSD. Namun kasusnya sudah relatif menurun, hanya beberapa sapi pendatang yang perlu perhatian khusus,” tegas Ambar.
Pemeriksaan juga dilakukan di lapak penjual kambing di Jalan KH Achmad Dahlan, Kabupaten Batang, Senin, 25 Mei 2026. Tim dokter hewan memeriksa kondisi fisik ternak secara menyeluruh, mulai dari mulut, kulit, hingga kesehatan umum hewan. Untuk kambing, pengawasan difokuskan pada potensi penyakit kulit seperti scabies.
Ambar menjelaskan, sebelumnya pihaknya telah melakukan pemeriksaan kandang penyedia hewan kurban di seluruh kecamatan dan menerbitkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) bagi ternak yang memenuhi syarat.
“Kemarin sudah kita keliling di 15 kecamatan untuk memeriksa kandang penyedia hewan kurban. Bagi yang sudah memenuhi syarat kesehatan, kita keluarkan SKKH. Sekarang kami fokus memeriksa lapak-lapak penjualan di pinggir jalan karena ini mulai bermunculan menjelang Idul Adha,” jelasnya.
Sebanyak 21 petugas kesehatan hewan diterjunkan dan disebar di 15 kecamatan untuk mempercepat proses pengawasan dan menjangkau seluruh titik penjualan.
Di sisi lain, Dispaperta memprediksi jumlah hewan kurban tahun ini mengalami sedikit penurunan dibanding tahun sebelumnya. Pada Idul Adha lalu, jumlah sapi kurban tercatat lebih dari 1.500 ekor, sedangkan kambing berkisar antara 3.000 hingga 4.000 ekor.
“Perkiraan tahun ini sedikit berkurang, mungkin dipengaruhi kondisi ekonomi,” terangnya.
Sementara itu, salah satu pedagang kambing, Angga (28), mengaku mendukung langkah pengawasan yang dilakukan pemerintah karena dinilai memberikan kepercayaan lebih kepada pembeli.
“Kalau saya merespons positif karena ini bagus untuk koreksi dan evaluasi usaha kami. Kambing yang dijual kan umur dan kualitasnya beragam, jadi pemeriksaan seperti ini membuat pembeli juga lebih yakin,” ujarnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Rosyid
































