Semarang (lingkarjateng.id) – 1 Dzulhijjah resmi ditetapkan pemerintah melalui sidang isbat dan jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Puasa Tarwiyah yang bertepatan dengan 8 Dzulhijjah akan jatuh besok Senin, 25 Mei 2026. Lantas bagaimana bacaan niatnya? dan bolehkah jika digabung puasa Senin?
Dilansir buku Belajar Puasa Syawal oleh Yulian Purnama, dalam syariat Islam, menggabung niat puasa disebut dengan tasyrik an niyyat. Ada beberapa ketentuan mengenai penggabungan niat yang diperselisihkan ulama, terutama antara puasa wajib dengan sunnah.
Lantas, bagaimana dengan puasa Tarwiyah yang digabung puasa Senin? Hukumnya boleh dan sah. Mengingat, yang dituntut dari puasa Senin dan Kamis bukanlah zatnya, tetapi waktunya. Syaikh al-Utsaimin pernah menjelaskan:
“Jika puasa Syawal bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, maka ia mendapatkan pahala puasa Senin-Kamis dengan niat puasa Syawal atau dengan puasa Senin-Kamis.” (Fatawa al-Islamiyah, 2/154).
Berhubung waktu pelaksanaan puasa Tarwiyah sudah di depan mata, kamu perlu bersiap-siap dengan cara mengetahui bacaan niat hingga waktu membacanya. Simak pembahasan lengkap yang di bawah ini!
Bacaan Niat Puasa Tarwiyah
Diambil dari buku Membumikan Rukun Islam (Teori dan Praktek) tulisan Bakhrudin Abdul Rohman, SPd, begini bacaan Arab, Arab Latin, dan arti niat puasa Tarwiyah:
نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَهْ سُنَةً لِلَّهِ تَعَلَى
Arab Latin: Nawaitu shauma tarwiyah sunnatan lillaahi ta’aalaa.
Arti: “Aku niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah Ta’ala.”
Bacaan Niat Puasa Tarwiyah Sekaligus Senin
Bagi kamu yang ingin sekaligus berpuasa Senin, contoh niatnya sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ التَّرْوِيَةِ وَيَوْمِ الْإِثْنَيْنِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma tarwiyah wa yaumul itsnaini sunnatan lillaahi ta’aala.
Arti: “Aku niat puasa sunnah Tarwiyah dan Senin karena Allah Ta’ala.”
Kapan Niat Puasa Tarwiyah dan Senin Dibaca?
Sebagaimana kamu ketahui, untuk puasa wajib, niat harus sudah ada di hati sejak sebelum adzan Subuh berkumandang. Apakah hal yang sama juga berlaku dalam pengerjaan puasa Tarwiyah?
Dirujuk dari buku Catatan Fikih Puasa Sunnah karya Hari Ahadi, puasa sunnah ada dua jenis. Pertama, puasa sunnah yang tidak terikat waktu khusus. Kedua, puasa sunnah yang waktunya khusus, seperti Tarwiyah dan Arafah.
Untuk puasa sunnah kategori kedua, waktu niatnya sama dengan puasa wajib, yakni sejak malam hingga sebelum Subuh. Pasalnya, jika telat baru berniat setelah waktu puasa dimulai, ia tidak teranggap berpuasa sehari penuh. Puasanya tetap sah, tetapi bukan puasa Tarwiyah.
Nah, buat kamu yang berencana puasa Tarwiyah besok, niat harus sudah ada di hati sejak malam hingga sebelum adzan Subuh. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata:
“Puasa sunnah yang tertentu waktunya memiliki hukum yang sama seperti puasa wajib (yaitu harus berniat dari malam/sebelum Subuh)…” (Fath Dzil Jalali wal Ikram, VII/89)
Apakah Niat Puasa Tarwiyah Harus Dibaca?
Tanpa niat, ibadah tidak ubahnya kegiatan biasa yang tak bernilai. Niat wajib ada di hati.
Namun, terkait sunnah-tidaknya mengucap niat, para ulama berselisih pendapat. Imam ad-Dimyathi as-Syafi’i dalam kitabnya yang termasyhur, I’anah ath-Thalibin, menulis:
“Sesungguhnya niat terletak di hati bukan pada lafal. Memaksakan diri untuk mengucapkan niat termasuk perbuatan yang tidak perlu dilakukan.” (I’anah ath-Thalibin, I/90)
Imam an-Nawawi mengeluarkan pendapat senada:
“Tidak sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Tempat niat di dalam hati, tidak dipersyaratkan untuk dilafalkan, tanpa ada khilaf (perselisihan) dalam masalah ini.” (Raudhah ath-Thalibin, II/350)
Di sisi lain, ada juga ulama yang menganggap pelafalan niat sebagai sunnah.
Akhir kata, yang pasti, niat wajib ada di hati. Adapun tentang sunnah tidaknya dibaca, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Wallahu a’lam bish-shawab.***
Editor : Redaksi




























