GROBOGAN, Lingkarjateng.id – Wakil Bupati (Wabup) Grobogan, Sugeng Prasetyo, memberikan peringatan tegas kepada pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setelah menemukan sejumlah pelanggaran standar saat melakukan monitoring dan evaluasi (monev) di beberapa dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah setempat.
Dalam inspeksi yang dilakukan bersama tim evaluasi, Sugeng menemukan berbagai aspek operasional yang belum sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) Badan Gizi Nasional (BGN), mulai dari sanitasi, pengelolaan limbah, hingga penggunaan peralatan dapur.
Sugeng yang juga menjabat Ketua Satgas Percepatan Program MBG Kabupaten Grobogan menegaskan seluruh temuan tersebut harus segera ditindaklanjuti. Pihaknya memberikan batas waktu maksimal tiga minggu bagi pengelola untuk melakukan pembenahan.
“Semua kekurangan harus segera diperbaiki. Dalam waktu tiga minggu harus sudah ada progres yang jelas. Jika tidak ada perubahan sesuai standar yang ditetapkan, operasional SPPG bisa dihentikan secara permanen,” tegas Sugeng, Rabu, 10 Juni 2026.
Hasil evaluasi menunjukkan persoalan sanitasi dan pengolahan limbah menjadi temuan yang paling dominan.
Sejumlah dapur SPPG diketahui belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memadai. Bahkan, salah satu dapur di wilayah Ngurangan, Kecamatan Kuripan, dilaporkan belum dilengkapi IPAL sama sekali.
Selain itu, tim juga menemukan masih banyak fasilitas dapur yang belum menggunakan material stainless steel sesuai standar keamanan pangan.
Beberapa rak penyimpanan, meja kerja, serta perlengkapan pengolahan makanan masih menggunakan bahan kayu dan material lain yang dinilai berisiko menjadi tempat berkembangnya bakteri.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena program MBG mengharuskan penggunaan peralatan yang higienis, mudah dibersihkan, dan mampu meminimalkan risiko kontaminasi makanan.
Dalam kunjungan tersebut, Sugeng memeriksa secara langsung seluruh proses operasional dapur, mulai dari penerimaan bahan baku, ruang persiapan, area produksi, penyimpanan bahan makanan, hingga sistem pengelolaan limbah.
Ia juga mengevaluasi nilai makanan per porsi guna memastikan kesesuaian dengan standar gizi dan pembiayaan program.
Aspek penyimpanan bahan pangan juga tak luput dari perhatian. Tim menemukan beberapa dapur masih menyimpan berbagai jenis bahan makanan dalam satu freezer atau ruang penyimpanan tanpa pemisahan yang sesuai prosedur.
Menurut Sugeng, praktik tersebut berpotensi menimbulkan kontaminasi silang yang dapat memengaruhi kualitas dan keamanan makanan sebelum didistribusikan kepada para siswa penerima manfaat.
Menanggapi hasil evaluasi tersebut, pengelola SPPG menyatakan siap melakukan perbaikan. Mitra SPPG Purwodadi 3, Yayan, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti seluruh masukan yang diberikan tim monev.
“Kami akan melakukan pembenahan secara bertahap sambil tetap menjaga pelayanan kepada penerima manfaat. Saat masa libur sekolah nanti perbaikan akan lebih dioptimalkan,” ujarnya.
Sementara itu, pengelola SPPG Sidomputat, Hartoyo, mengakui masih terdapat sejumlah sarana dan peralatan yang belum sepenuhnya memenuhi standar. Menurutnya, pada tahap awal pelaksanaan program, fokus utama adalah memastikan layanan MBG dapat segera berjalan.
Meski demikian, ia memastikan proses perbaikan terus dilakukan agar seluruh fasilitas operasional dapat memenuhi ketentuan yang ditetapkan.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Rosyid





























