SALATIGA, Lingkarjateng.id – Realisasi pendapatan rumah sakit daerah di Kota Salatiga menjadi sorotan. Hingga laporan terakhir, pendapatan RSUD disebut baru mencapai sekitar 30 persen dari target yang telah ditetapkan, yakni sekitar Rp154 miliar.
Ketua Komisi A DPRD Kota Salatiga, M. Miftah, mengungkapkan bahwa capaian tersebut masih jauh dari target, sehingga perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja dan pengelolaan anggaran.
“Pendapatan kurang lebih baru 30 persen dari target sekitar Rp154 miliar. Ini tentu perlu kita cermati bersama,” ujarnya, Sabtu, 11 April 2026.
Tak hanya dari sisi pendapatan, DPRD juga menyoroti realisasi belanja yang dinilai masih rendah. Dari laporan yang diterima, belanja baru terealisasi sekitar 13 persen atau sekitar Rp20 miliar.
Menurut Miftah, pihaknya tidak ingin hanya menerima laporan dalam bentuk global. DPRD meminta agar manajemen rumah sakit menyampaikan rincian detail penggunaan anggaran.
“Kita tidak hanya puas dengan angka gelondongan. Harus ada rincian jelas, anggaran itu digunakan untuk apa saja, sehingga kita bisa melihat posturnya secara utuh,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa pengawasan ini dilakukan demi kepentingan masyarakat. Sebagai aset milik daerah, rumah sakit harus dikelola secara transparan dan akuntabel.
“Ini milik rakyat. Maka pengelolaannya harus benar-benar bisa dipertanggungjawabkan dan berorientasi pada pelayanan publik,” katanya.
Lebih lanjut, Miftah juga menyoroti komposisi belanja yang masih didominasi oleh biaya remunerasi pegawai yang disebut mendekati 50 persen dari total anggaran. Kondisi ini dinilai perlu dikaji ulang jika rumah sakit ingin berkembang.
“Kalau ke depan ingin berkembang dan meningkatkan layanan, tidak bisa hanya bertumpu pada belanja rutin. Harus ada ruang untuk investasi,” jelasnya.
Di tengah keterbatasan keuangan daerah, DPRD mendorong adanya strategi pengembangan yang lebih inovatif, termasuk membuka peluang investasi untuk mendukung peningkatan layanan.
Selain itu, Komisi A juga meminta adanya kajian komprehensif terkait tata kelola rumah sakit, termasuk strategi dalam menarik pasar agar RSUD bisa menjadi pilihan utama masyarakat.
“Kami minta ada kajian menyeluruh. Bagaimana tata kelolanya, bagaimana strategi pasarnya, supaya rumah sakit ini bisa berkembang dan menjadi favorit masyarakat,” tandasnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Ulfa































