KENDAL, Lingkarjateng.id – Melalui pendekatan diplomasi ekonomi, peserta Diklat Sesparlu Angkatan 77 Kementerian Luar Negeri, yang terintegrasi dengan Program Kepemimpinan Nasional II, bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kendal menggelar lokakarya bertajuk “Penguatan Rantai Pasok Produksi Budidaya Ikan Bandeng dalam Rangka Upaya Penetrasi Pasar Ekspor”.
Kegiatan tersebut mempertemukan para pelaku usaha tambak bandeng dengan pakar dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Universitas Diponegoro, dan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO).
Sebanyak 16 peserta yang terdiri dari penyuluh perikanan, petambak bandeng, dan pemangku kepentingan sektor perikanan berdialog mengenai strategi peningkatan produktivitas tambak, penerapan Good Quality and Standard Practices (GQSP), serta peluang ekspor bandeng Kendal ke pasar global.
Kepala DKP Kabupaten Kendal, drh. Hudi Sambodo, mengatakan pihaknya menyambut baik terpilihnya Kendal sebagai lokus kegiatan nasional ini.
“Kami mengapresiasi dipilihnya Kendal sebagai lokus Visitasi Kepemimpinan Nasional ini. Harapannya, kegiatan ini dapat membantu menggali potensi bandeng dari Kendal agar dapat menembus pasar dunia,” ujarnya, Selasa, 8 Oktober 2025.
Senada dengan itu, Duta Besar Diar Nurbintoro yang mewakili Kementerian Luar Negeri, menekankan pentingnya peran diplomasi ekonomi dalam pemberdayaan masyarakat pesisir.
“Diplomasi ekonomi tidak hanya dilakukan di ruang perundingan, tapi juga di lapangan bersama para pelaku usaha lokal,” katanya.
“Melalui penguatan kapasitas petambak, kita membangun fondasi agar produk bandeng Kendal siap bersaing di pasar internasional,” tambahnya.
Usai sesi diskusi, para peserta melakukan kunjungan lapangan ke tambak bandeng di Desa Kalirejo.
Adapun Kabupaten Kendal sendiri merupakan salah satu sentra utama produksi bandeng di Pantura Jawa Tengah, dengan capaian produksi sebesar 9.318,7 ton pada 2024. Bandeng dari daerah ini telah diolah menjadi berbagai produk unggulan, seperti bandeng presto yang populer di pasar domestik.
Namun, dalam dialog dengan peserta, para petambak mengungkapkan tantangan yang masih dihadapi.
“Kami mengharapkan adanya pemberian subsidi di rantai pasok pakan bandeng,” ujar Rohid, salah satu pengusaha tambak.
“Kami mengalami kesulitan karena harga pelet dan hasil produk bandeng tidak imbang,” tambahnya.
Dukungan dari Pengembangan Ekspor dan Pemerintah
Mumfaizin, pelaku ekspor sekaligus pakar akses pasar dari UNIDO, menilai potensi bandeng Kendal cukup besar untuk ekspor.
“Namun, terlebih dahulu harus ditingkatkan budidayanya, khususnya traceability benih unggul agar memenuhi spesifikasi ekspor,” katanya.
“Kami siap membantu akses benih berkualitas dan mengajak calon pembeli meninjau tambak di Kendal.”
Hal serupa juga disampaikan oleh Syamdidi, Plt. Kepala Pusat Kebijakan Strategis KKP.
“Kami melihat tambak bandeng di Kendal ini berpotensi menjadi Kampung Nelayan Merah Putih yang menjadi salah satu program Presiden,” ujarnya.
“Namun, perlu diperhatikan status kepemilikan lahan agar memperlancar proses pembangunan sarana fisiknya,” imbuhnya.
Kegiatan ini juga dinilai menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun klaster akuakultur siap ekspor di kawasan Pantura. Selain memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi ekonomi berbasis perikanan, inisiatif ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petambak lokal secara inklusif dan berkelanjutan.





























