Kudus (lingkarjateng.id) – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus, Eko Suharto menyebut pihaknya mencatat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kudus secara tahunan atau year on year (yoy), tumbuh 7,64 persen pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang terkontraksi 0,11 persen.
“Secara kuartal ke kuartal, ekonomi Kudus pada triwulan II 2026 tumbuh 1,86 persen dibandingkan triwulan I 2026,” kata Eko Suharto dalam rilis inflasi yang digelar di Kantor BPS Kudus, baru-baru ini.
“Sedangkan, pertumbuhan ekonomi secara c-to-c atau kumulatif semester I 2026 dibandingkan semester I 2025 tercatat sebesar 6,45 persen,” lanjutnya.
Eko mengungkapkan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kudus itu, karena adanya kontribusi terbesar dari sektor industri pengolahan sebesar 75,36 persen.
“Kontribusi tersebut jauh lebih besar dibandingkan sektor perdagangan sebesar 6,31 persen, konstruksi 4,48 persen, serta pertanian sebesar 2,68 persen,” jelasnya.
Sementara sektor lainnya, kata Eko, seperti transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi dan makan minum, jasa pendidikan, pertambangan, serta pengadaan air memberikan kontribusi yang bervariasi, mulai dari sekitar 2 persen hingga 0,50 persen.
“Jadai, seluruh lapangan usaha di Kabupaten Kudus mencatatkan pertumbuhan positif selama triwulan II 2026. Adapun lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap perekonomian daerah masih didominasi industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi.
Eko menjelaskan peningkatan aktivitas industri pengolahan, termasuk industri hasil tembakau (IHT), turut mendorong pertumbuhan ekonomi Kudus pada triwulan II 2026.
Ia berujar pada periode yang sama tahun 2025, aktivitas industri tembakau sempat mengalami penurunan sehingga turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Sementara pada tahun ini, aktivitas industri mulai menunjukkan peningkatan.
“Selain industri pengolahan, sejumlah lapangan usaha juga mencatat pertumbuhan cukup tinggi, di antaranya pertanian, pengadaan listrik dan gas, serta informasi dan komunikasi,” tandasnya.
Eko menambahkan untuk pertumbuhan sektor pertanian antara lain dipengaruhi musim panen raya. “Selain tanaman pangan, aktivitas peternakan juga mendapat dorongan dari momentum Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha,” pungkasnya. (Lingkar Network/Nisa)***
Editor : Adi Arfian































