SEMARANG, Lingkarjateng.id – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah terus melakukan inovasi kepada para petani untuk beralih memanfaatkan energi baru terbarukan yakni dengan tenaga surya.
Sebagai contoh penggunaan genset yang semula menggunakan bahan bakar minyak, kemudian diganti dengan energi tenaga surya.
“Jadi, petani-petani yang awalnya menggunakan genset untuk gerakkan pompanya itu yang semula pakai solar subsidi kita mulai konversi dengan energi baru terbarukan yaitu dengan solar sistem atau energi tenaga surya,”ujar Kepala ESDM Jateng Agus Sugiharto, Kamis, 2 Juli 2026.
Pihaknya mengatakan penggunaan energi tenaga surya untuk petani ini sudah berlangsung sejak dua tahun terakhir yang tersebar di 6 lokasi diantaranya Pekalongan, Brebes, Banyumas, Cilacap, Kebumen dan Purbalingga. Ia berharap nantinya petani tidak lagi mengeluhkan tentang permintaan solar subsidi.
“Harapannya petani kita ini tidak lagi minta rekomendasi-rekomendasi solar-solar subsidi untuk menggerakan genset dan itu ada penghematan per 10 hektarnya itu sekitar 80 juta solar atau BBM. Sehingga itu juga mengurangi ketergantungan petani terhadap BBM,”ungkapnya.
Selain di sektor pertanian, Agus juga menyebut saat ini para perusahaan juga diwajibkan untuk menggunakan energi tenaga surya dalam kegiatan produksinya. Hal ini didorong oleh regulasi pemerintah, tuntutan pasar global, serta pemenuhan standar keberlanjutan demi daya saing ekspor.
“Termasuk juga industri-industri yang sekarang juga dipersyaratkan untuk green ekonomi itu banyak yang masang solar-solar panel untuk kegiatan produksinya. Bahwa dia (perusahaan) juga menggunakan green energi tidak hanya mengandalkan listrik dari PLN yang masih kombinasi antara energi baru terbarukan (EBT) yang mencakup PLTA, panas bumi, ada yang masih PLTD, dan ada yang masih pakai gas,”sebutnya.
Di sisi lain, pengembangan energi terbarukan di Jawa Tengah juga akan diperkuat melalui pembangunan PLTS terapung yang direncanakan oleh PLN di Waduk Kedungombo dan Waduk Gajahmungkur. Masing-masing pembangkit dirancang memiliki kapasitas 100 megawatt (MW), sehingga total kapasitas mencapai hampir 200 MW.
Selain PLTS, pengembangan energi panas bumi juga terus didorong, termasuk penambahan kapasitas pembangkit di kawasan Dieng dan rencana investasi pengembangan panas bumi di wilayah Telomoyo.
Agus menegaskan Jawa Tengah memiliki potensi energi baru terbarukan yang sangat besar, mulai dari tenaga surya, air, panas bumi, angin hingga gelombang laut.
Karena itu, kata dia, pemerintah daerah akan terus mendorong pemanfaatan energi bersih agar penggunaan energi fosil semakin berkurang dan pembangunan yang ramah lingkungan dapat terwujud.
Jurnalis: Rizky Syahrul
Editor: Sekar






























