SEMARANG, Lingkarjateng.id – Jawa Tengah resmi ditetapkan sebagai daerah percontohan Program Indonesia Sadar Jamu Aman (Idaman) yang digagas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Program ini melibatkan lima daerah, yakni Kabupaten Purworejo, Sukoharjo, Pati, Kota Surakarta, dan Kota Semarang, sebagai pilot project penguatan keamanan serta kualitas jamu tradisional.
Peluncuran program tersebut digelar di Gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang, Selasa, 9 Juni 2026, dengan melibatkan pemerintah daerah, pelaku usaha jamu, dan berbagai pemangku kepentingan terkait.
Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menyebut Jawa Tengah dipilih karena memiliki budaya konsumsi jamu yang kuat serta potensi besar tanaman herbal yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi nasional hingga pasar global.
“Jawa Tengah memiliki budaya minum jamu yang sangat kuat. Potensi tanaman herbalnya luar biasa dan bisa menjadi kekuatan ekonomi bangsa,” ujarnya.
Meski memiliki potensi besar, BPOM masih menemukan peredaran jamu ilegal yang mengandung bahan kimia obat (BKO). Sepanjang 2025, dari 11.654 sampel obat bahan alam dan suplemen kesehatan yang diuji, sebanyak 206 produk terbukti mengandung BKO yang dilarang.
Temuan serupa juga muncul dari pengawasan digital, di mana BPOM mencatat lebih dari 39 ribu penjualan obat bahan alam ilegal di berbagai platform daring. Khusus di wilayah Semarang, ditemukan 147 produk dengan total 13.263 unit yang diduga mengandung bahan kimia obat atau tidak memiliki izin edar.
Selain itu, hasil inspeksi sepanjang 2025 hingga 2026 di Jawa Tengah terhadap 119 fasilitas menunjukkan adanya 10.267 jenis produk obat bahan alam yang juga terindikasi mengandung bahan kimia obat.
“Temuan ini menunjukkan masih adanya praktik penggunaan bahan kimia obat dalam jamu. Kami akan melakukan penindakan tegas untuk melindungi masyarakat,” tegas Taruna.
Di sisi lain, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyambut baik penetapan lima daerah tersebut sebagai proyek percontohan Program Idaman. Menurutnya, industri jamu memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif dan UMKM daerah.
Ia juga menyoroti meningkatnya tren gaya hidup sehat pascapandemi yang turut mendorong popularitas jamu, termasuk di kalangan generasi muda. Sejumlah daerah seperti Surakarta, Sukoharjo, dan Semarang bahkan mulai menghadirkan jamu dalam format modern di berbagai kafe.
“Jamu bukan hanya warisan budaya, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Konsumsinya perlu terus didorong sebagai bagian dari gaya hidup sehat masyarakat,” kata Taj Yasin.
Pemerintah daerah bersama BPOM juga akan memperkuat pendampingan kepada pelaku UMKM jamu agar menghasilkan produk yang aman, berizin, dan memiliki daya saing.
Program Idaman diharapkan tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konsumsi jamu yang aman, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat industri herbal dunia. Jamu sendiri telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2023, sehingga pengembangannya dinilai memiliki nilai strategis baik secara budaya maupun ekonomi.
Sumber: Humas Pemprov Jateng
Editor: Rosyid




























