BATANG, Lingkarjateng.id – Proyek pembenahan Alat Penerangan Jalan Umum (APJU) di Kabupaten Batang senilai Rp153 miliar mulai dilirik nvestor. Sedikitnya 18 investor telah menyatakan minat mengikuti proyek yang akan digarap melalui skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) tersebut.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Baperrida) Batang, Bagus Pambudi, mengatakan tingginya minat investor menjadi sinyal positif menjelang tahap lelang proyek.
“Saat menggelar agenda di Jakarta, ada sekitar 60 perusahaan termasuk para calon lenders atau pemilik modal yang hadir. Sementara untuk agenda di Batang sendiri, tercatat ada 18 investor yang merapat. Angka ini tergolong sangat tinggi untuk kategori lelang APJ,” katanya saat ditemui di Ruang Ujungnegoro Baperrida Batang, Selasa, 2 Juni 2026.
Ia menjelaskan, saat ini Pemkab Batang tengah mematangkan persiapan melalui market sounding kedua, yang menjadi tahapan penting sebelum masuk proses transaksi KPBU atau lelang.
“Tujuan market sounding kedua ini, satu, menyampaikan informasi lebih lanjut mengenai rencana lingkup, struktur, dan skema proyek. Yang kedua, mengumpulkan masukan dan tanggapan dari para pelaku pasar atau investor. Kemudian, sebagai bagian dari kegiatan persiapan memasuki tahap transaksi KPBU atau tahap lelang,” jelasnya.
Berbeda dengan market sounding pertama di Jakarta yang masih bersifat umum, pertemuan di Batang difokuskan pada pembahasan teknis proyek. Para investor yang telah mengirimkan Letter of Intent (LoI) diajak untuk memahami spesifikasi, tahapan lelang, hingga melakukan kunjungan lapangan.
“Kita akan menjelaskan teknisnya, spek yang dibutuhkan seperti apa. Kemudian, tahapan-tahapan lebih rinci lagi, tahapan lelangnya, termasuk yang paling penting di MS kedua ini adalah site visit,” imbuhnya.
Proyek APJU ini memiliki nilai belanja modal sebesar Rp153 miliar dengan biaya operasional sekitar Rp3,4 miliar per tahun. Skema pengembalian investasi menggunakan Availability Payment (AP), yakni Rp26,4 miliar per tahun untuk lima tahun pertama dan meningkat menjadi Rp39,2 miliar per tahun pada lima tahun berikutnya.
Menurut Bagus, minat investor terhadap skema KPBU kini meningkat seiring pemahaman yang semakin baik terhadap mekanisme dan keuntungannya.
“KPBU ini sepertinya sudah mulai dipahami, tidak hanya oleh Pemda, tapi dipahami para investor, sehingga mereka meyakini skema KPBU, pembayaran AP (Availability Payment) itu menguntungkan bagi semua pihak,” tegasnya.
Pemkab Batang menargetkan pengumuman lelang dapat dilakukan pada awal Juli 2026, dengan harapan proses penetapan pemenang selesai pada November dan konstruksi dimulai Desember tahun ini.
“Lelang diharapkan akan diumumkan itu di awal Juli. Jadi, memang kita kejar-kejaran dengan waktu, ya tapi itu sudah sesuai dengan timeline. Juli nanti lelang, mudah-mudahan November ya, proses lelang ada, kemudian November sudah ada pengumuman lelang. Mulai Desember nanti konstruksi,” katanya.
Selain nilai investasi besar, proyek ini juga mengusung konsep teknologi modern melalui penerapan smart pole di sejumlah titik strategis. Tiang penerangan akan dilengkapi CCTV, sensor polusi udara, sensor banjir, serta sistem smart metering untuk memantau kondisi lampu secara real time.
“Berkat teknologi ini, sistem akan otomatis mengirimkan sinyal jika ada lampu yang padam atau bermasalah. Itu supaya segera langsung diperbaiki tanpa menunggu aduan dari masyarakat,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Sekar






























