SALATIGA, Lingkarjateng.id – Musim kemarau 2026 mulai berdampak pada sektor pertanian di Kota Salatiga. Oleh karena itu, Dinas Pangan dan Pertanian (Disapangtan) akan menggerakkan program pompanisasi sebagai langkah mitigasi.
Disapangtan Kota Salatiga mengingatkan bahwa padi sawah menjadi komoditas yang paling rentan mengalami penurunan produksi apabila pasokan air terus berkurang selama musim kemarau. Jika kekurangan air terutama saat fase pengisian bulir, tanaman bisa mengalami puso atau gagal panen.
Dispangtan juga terus melakukan edukasi kepada petani agar menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca. Petani didorong beralih ke komoditas yang lebih tahan terhadap kekeringan seperti jagung, palawija, dan sorgum, serta menggunakan varietas padi genjah yang memiliki masa panen lebih cepat.
Plt Kepala Dispangtan Kota Salatiga, Eny Endang Surtiani, menjelaskan gerakan pompanisasi dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan pompa air untuk mengalirkan air dari sungai maupun sumur jaringan irigasi air tanah (JIAT) menuju lahan pertanian yang membutuhkan.
“Kami juga berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memperkuat jaringan irigasi, mulai dari saluran primer hingga tersier. Langkah tersebut dilakukan guna meminimalkan kehilangan air akibat kebocoran maupun rembesan di sepanjang saluran,” terangnya, Rabu, 3 Juni 2026.
Eny mengungkapkan, penurunan debit air di sejumlah saluran irigasi sekunder dan tersier mulai terpantau. Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk mempercepat berbagai langkah antisipasi guna menjaga produktivitas pertanian dan mencegah terjadinya gagal panen.
“Sejauh ini kondisi pertanian masih relatif terkendali. Sebagian besar lahan pertanian saat ini baru menyelesaikan masa panen. Namun, kewaspadaan perlu ditingkatkan seiring masuknya musim kemarau yang berpotensi mengurangi ketersediaan air bagi tanaman,” ucapnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Ulfa






























