GROBOGAN, Lingkarjateng.id – Sebanyak 648 pohon ditebang demi proyek penataan drainase di Kabupaten Grobogan. Kondisi ini menjadi perhatian masyarakat yang mempertanyakan alasan penebangan tersebut.
Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Grobogan, Erry Subagyo menyebut penebangan dilakukan karena ukuran drainase lama sudah tidak memadai dan akar pohon turut merusak trotoar serta mengganggu saluran.
“Yang ramai kan saat ini pemotongan pohon itu ya. Jadi saya jelaskan, drainase saat ini setelah dilakukan perencanaan oleh konsultan, telah disurvei dan diinvestigasi kondisinya. Saat ini sudah tidak memadai dari kondisi dimensi ukuran, baik lebar maupun dalamnya kurang,” ujar Erry, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Selain itu, ia mengungkapkan akar pohon di sepanjang jalur tersebut telah merusak bagian luar trotoar. Akar pohon juga telah masuk ke saluran drainase lama dan menutup sebagian jalur air.
“Akar menyerang bagian luar trotoar sehingga paving pecah, miring, sehingga tidak layak untuk pengguna jalan dan berbahaya,” jelasnya.
Erry menjelaskan, proyek drainase baru membutuhkan saluran dengan ukuran lebih lebar dan dalam. Sedangkan keberadaan pohon di sekitar jalur pembangunan membuat pekerjaan tidak memungkinkan, sehingga dilakukan penebangan.
“Kalau pohon dipotong itu akan menyebabkan tumbang dan membahayakan. Solusinya, drainase dilebarkan dan diganti dengan beton yang tidak dapat ditembus air,” katanya.
Meski demikian, pihaknya memastikan kawasan yang terdampak tidak akan dibiarkan gundul. Menurutnya, pohon yang ditebang akan diganti pohon jadi.
“Jadi dari pohon yang sudah ada diganti dengan pohon baru, bukan bibit. Pohon jadi, nanti diameternya 15, 20, bahkan sampai 25,” ungkapnya.
Adapun dua jenis pohon yang disiapkan untuk penanaman kembali adalah pule dan tabebuya. Erry menyebut pohon pule akan ditanam dengan konsep seperti yang berada di kawasan Simpang Lima Purwodadi, sedangkan tabebuya akan ditanam dengan model penghijauan seperti di sekitar SMP Negeri 6.
“Kalau tabebuya seperti di SMP 6, saat kembang mekar suasananya adem. Kalau pule, menurut pengalaman kalau sudah satu tahun sudah rimbun,” ujarnya.
Dengan penggunaan pohon berukuran besar, ia menargetkan kawasan terdampak penebangan kembali rindang dalam waktu sekitar satu tahun.
“Untuk masyarakat kita janjikan dalam satu tahun sudah kembali rimbun,” tegasnya.
Erry menambahkan, jumlah pohon yang ditanam kembali nantinya akan lebih banyak daripada 648 pohon yang ditebang.
“Adapun pohon yang ditebang sebanyak 648, namun nantinya pohon yang ditanam akan lebih banyak dari itu,” katanya.
Ia berharap masyarakat memahami dan memaklumi selama proses pembangunan drainase berlangsung.
“Jadi seperti itu harapannya masyarakat agar paham kenapa pohon ditebang. Alasannya itu, sulit untuk membangun drainase kalau pohonnya masih seperti itu karena drainasenya harus lebar, dalam. Otomatis pohon dipotong separo pasti ambruk dan berbahaya,” pungkas Erry.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Sekar































