Blora (lingkarjateng.id) – Sanggar Kegiatan Mengajar (SKB) Blora berkomitmen menerapkan pendidikan inklusi di satuan pendidikan tersebut. Tercatat sedikitnya 10 siswa disabilitas turut mengikuti pembelajaran non formal atau kejar paket.
“Setiap angkatan dari paket A hingga C ada semua. Semua ikut satu kelas yang sama dengan umumnya, sehingga tidak ada perbedaan dalam pembelajaran,” kata Jumini, Kepala SKB Blora saat ditemui wartawan pada Senin (13/04/2026).
Jumini menyebutkan bahwa setingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) di SKB juga terdapat anak-anak penyandang disabilitas. Dari mulai speech delay (keterlambatan bicara), Autism (gangguan interaksi sosial), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) bukan autism hingga gangguan penglihatan.
“Langkah pertama yang kita lakukan itu melakukan koordinasi dengan puskesmas. Selanjutnya meminta rekomendasi untuk pendampingan ke RSUD. Kita sifatnya menstimulasi anak, kalau penanganan kita serahkan ke yang berkompeten yaitu RSUD,” terangnya.
Lebih lanjut, dikatakan setiap pendaftaran peserta didik baru, baik dari tingkat PAUD hingga paket C selalu ada observasi awal untuk memahami kondisi peserta didik. Selanjutnya melakukan koordinasi dengan orang tua terkait penanganan selama ini yang telah dilakukan.
“Kita berkonsultasi ke rumah sakit itu setahun satu kali untuk melihat perkembangan anak, kita juga melibatkan orang tua agar bisa memahami kondisi anak bila dirumah,” sambung Jumini.
Dikatakan, beberapa ruang kelas yang berada di SKB telah dipasang Guiding Blok atau penanda untuk siswa disabilitas tuna netra.
Ia berharap pemasangan Guiding Blok bisa membantu siswa yang memiliki keterbatasan penglihatan dapat memasuki kelas pembelajaran.

“Pendidikan itu hak dasar setiap anak. Semua anak itu punya kelebihan masing-masing. Tugas kita berupaya semaksimal mungkin meningkatkan pengetahuan siswa,” tuturnya.
Lebih lanjut, saat ini siswa disabilitas yang berada di satuan pendidikan SKB, dari Paket A hingga C, didominasi oleh penyandang disleksia atau keterlambatan berfikir. Sementara untuk penyandang disabilitas fisik hingga down sindrom belum ada.
“Kalau yang disleksia paket B kelas 8, itu pun belum bisa baca. Lalu ada yang kelas 12 itu bacanya masih mengeja, sementara saat menulis bacaan yang dilihat itu per huruf bukan per kata yang dicontohkan,” ungkapnya.
Pihaknya menyatakan selalu memberi semangat para pendidik di SKB untuk tetap sabar dalam memberi pembelajaran.
Tak hanya para pendidik, peserta didik yang berada di SKB juga diberi semangat, untuk tidak menyerah dan menanamkan jiwa disiplin serta menjadi pribadi yang terampil.
“Kalau membuat cerdas mungkin terlalu jauh. Tapi saya berupaya agar mereka tidak patah semangat dan tetap bisa memiliki ketrampilan yang bermanfaat dikemudian hari,” pungkas Jumini.***
Jurnalis : Eko Wicaksono
Editor : Fian





























