PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Sukirman menegaskan pentingnya peran mahasiswa dan pengamat dalam memberikan masukan kritis terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pekalongan.
Hal tersebut disampaikan Sukirman saat menjadi pemateri dalam talk show bersama mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, Sabtu, 11 April 2026.
Menurutnya, forum tersebut menjadi ruang strategis untuk menyerap berbagai pandangan dari kalangan akademisi, pengamat politik, hingga pengamat sosial. Masukan tersebut akan menjadi bahan evaluasi guna meningkatkan efektivitas program MBG ke depan.
“Harapannya, kita mendapatkan catatan-catatan kritis sehingga upaya yang dilakukan kedepan bisa lebih baik,” ujar Sukirman.
Ia menjelaskan, pengawasan program MBG difokuskan pada ketepatan sasaran penerima, kualitas makanan, serta dampaknya terhadap perekonomian masyarakat. Pemerintah juga mendorong keterlibatan pedagang lokal dalam rantai pasok bahan pangan.
“Kita ingin memastikan keterlibatan pedagang lokal, mulai dari telur, sayur, hingga beras, bisa terserap oleh dapur-dapur MBG,” jelasnya.
Lebih lanjut, Sukirman menekankan bahwa program yang menggunakan anggaran besar ini harus benar-benar memberikan manfaat nyata, khususnya bagi peserta didik. Selain itu, program MBG juga diharapkan mampu menekan angka stunting dan menciptakan generasi yang lebih sehat dan tangguh.
Tak hanya menyasar siswa, program ini juga diarahkan untuk menjangkau ibu hamil serta masyarakat di wilayah tertinggal. Pemerintah daerah, kata dia, akan mendorong pembangunan dapur MBG agar merata hingga ke daerah tersebut.
Meski demikian, Sukirman menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan dalam aspek perizinan dan operasional program. Peran yang diemban lebih kepada fungsi pengawasan agar pelaksanaan berjalan sesuai aturan.
“Tugas saya adalah memastikan program MBG ini berjalan dengan baik manfaatnya dan segala dinamikanya, agar cita-cita Pak Presiden ini bisa terwujud dengan baik,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua BEM UGM periode 2025, Tiyo Ardianto, menilai diskusi dalam forum tersebut penting untuk mencari titik temu di antara berbagai elemen yang berkepentingan demi perbaikan kondisi bangsa.
Ia menyebut, terdapat kesadaran bersama bahwa kondisi negara saat ini belum sepenuhnya baik. Namun, menurutnya, masih ada hambatan yang membuat sebagian pihak enggan menyampaikan pendapat secara terbuka.
“Yang paling menonjol adalah kesadaran kita semua bahwa republik ini tidak sedang baik-baik saja. Hanya saja memang ada mekanisme yang menghalangi orang untuk berbicara,” paparnya.
Talk show yang digelar oleh Senat Mahasiswa Fakultas Syariah UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan ini juga menghadirkan sejumlah narasumber lain, di antaranya anggota DPRD Kabupaten Pekalongan, aktivis mahasiswa, pengamat sosial, hingga akademisi.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Sekar





























