PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Ribuan warga memadati Halaman Parkir Objek Wisata Linggoasri, dalam gelaran Harmony Syawalan Megono 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Pekalongan, Jumat, 27 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi pasca-Idul Fitri sekaligus upaya melestarikan tradisi khas masyarakat setempat.
Acara tersebut dihadiri Plt Bupati Pekalongan, Sukirman bersama jajaran Forkopimda, Sekda, kepala OPD, camat, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya, Sukirman menegaskan bahwa Syawalan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sarana mempererat kebersamaan warga.
“Syawalan ini bukan sekadar tradisi berkumpul, tetapi mengandung nilai kebersamaan dan gotong royong yang harus terus kita jaga. Tradisi ini menjadi bagian dari identitas masyarakat Pantura, termasuk Kabupaten Pekalongan,” ujarnya.
Ia juga menyinggung perbedaan waktu perayaan Idul Fitri tahun ini yang menurutnya tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan. Perbedaan tersebut, kata dia, justru menjadi bagian dari keragaman yang patut disyukuri bersama.
Selain itu, Sukirman turut menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri 1447 Hijriah dan permohonan maaf kepada masyarakat. Ia mengakui, dalam menjalankan roda pemerintahan masih terdapat kekurangan.
Kemeriahan acara semakin terasa dengan berbagai rangkaian kegiatan, salah satunya lomba kreasi penyajian Sego Megono. Kuliner khas Pekalongan tersebut menjadi ikon utama dalam tradisi Syawalan.
Menurut Sukirman, Megono memiliki nilai lebih dari sekadar makanan.
“Megono ini adalah kekayaan kuliner kita. Tradisi Syawalan dengan Megono ini harus terus kita kampanyekan dan sosialisasikan, agar menjadi kebanggaan daerah sekaligus mampu menarik wisatawan,” katanya.
Panitia juga menyiapkan ribuan bungkus Sego Megono dari 19 kecamatan yang dibagikan kepada masyarakat. Warga tampak antusias menikmati hidangan tersebut secara bersama-sama dengan tertib, mencerminkan nilai kebersamaan yang diusung dalam kegiatan ini.
“Silakan dinikmati bersama. Tidak perlu berebut, kita antri dengan tertib. Ini momentum kebersamaan kita,” pesannya.
Salah satu pengunjung yang hadir, Slamet Sumari, warga Kecamatan Sragi rela datang sejak pagi untuk mengikuti rangkaian acara Syawalan di Linggoasri.
Ia mengaku senang dengan penyelenggaraan Harmony Syawalan Megono yang dinilai mampu menghadirkan suasana kebersamaan sekaligus mengangkat kearifan lokal. Ia juga mendukung penuh pemilihan Nasi Megono sebagai simbol Syawalan di Kabupaten Pekalongan.
“Kalau Kota Pekalongan punya lopis, menurut saya Kabupaten Pekalongan sudah tepat memilih megono sebagai ciri khas Syawalan. Ini memang makanan khas kita,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaan megono sebagai ikon Syawalan tidak hanya memperkuat identitas daerah, tapi juga menjadi langkah positif dalam memperkenalkan kuliner khas Kabupaten Pekalongan kepada masyarakat luas.
“Saya berharap kegiatan serupa dapat terus digelar setiap tahun dengan kemasan yang semakin meriah. Saya juga mengapresiasi, tadi selama proses pembagian sego megono berlangsung dengan sangat tertib, semua yang hadir kebagian, petugas yang membagikan juga banyak. Alhamdulillah tadi saya dapat 3 bungkus,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Sekar S
































