BLORA, Lingkarjateng.id – Polemik antara warga Getas dengan pihak Universitas Gadjah Mada di Kabupaten Blora terkait penggunaan lahan tebu belum terselesaikan.
Pada Rabu, 7 Mei 2025 seorang warga Getas, Beni, mengatakan sempat memergoki oknum dari pihak UGM hendak melakukan penyemprotan lahan tebu. Saat itu ia melihat dua oknum memanggul mesin semprotan ke arah lahan tebu petak 14 dan 19.
Ia mengaku sempat mengejar oknum tersebut dan adu mulut. Lantaran itu oknum tersebut menelepon rekannya. Begitu pun Beni, warga ikut datang ke petak 14.
Pada kesempatan itu Beni menjelaskan seharusnya tidak boleh ada gerakan apapun selama konflik lahan belum jelas.
“Setelah kita jelaskan bahwa tidak boleh ada gerakan apapun sebelum ada pertemuan antara pimpinan UGM dan kuasa hukum kami, sehingga penyemprotan lahan dianggap menyalahi komitmen,” tegasnya.
Dia mengaku setelah empat oknum meninggalkan lokasi, Beni dan warga Getas bersiaga jika sewaktu-waktu terjadi hal serupa.
“Kami warga terus berjaga dan patroli agar tidak ada kejadian penyemprotan seperti kejadian pada Jumat 2 Mei 2025 lalu,” tandasnya.
Sementara itu, petugas lapangan kampus UGM yang berada di Desa Getas namun enggan menyebut namanya, ketika dikonfirmasi terkait ketegangan itu, dirinya mengaku tidak tahu.
“Maaf saya tidak tahu,” ujarnya singkat.
Merasa Lahan Diserobot, Ratusan Petani Tebu Geruduk Kampus UGM di Blora
Diberitakan sebelumnya, ketegangan atas konflik lahan itu juga terjadi pada Jumat, 2 Mei 2025.
Warga kemudian memutuskan mendatangi kembali pihak UGM dengan didampingi Forum Bela Negara Republik Indonesia
Kedatangan warga tersebut untuk mempertanyakan alasan pihak UGM yang melakukan penyemprotan lahan tebu milik warga di Dukuh Jliru Desa Tlogo Tuwung Kecamatan Randublatung.
Seorang warga Getas, Sukirman, mengatakan lahan tebu milik warga Dukuh Jliru Desa Tlogo Tuwung tepatnya di petak 38 telah disemprot oleh oknum yang mengaku dari pihak UGM.
“Sekarang tebunya menguning dan kemungkinan akan mati,” ucapnya di sela audensi.
Selain penyemprotan lahan tebu, seorang warga bernama Sutrisno juga mengaku didatangi empat oknum yang mengatakan berasal dari UGM. Mereka meminta agar lahan yang dikerjakan oleh warga untuk bisa dibagi dengan pihak UGM dengan sistem 50 persen warga dan 50 persen pihak UGM.
“Saya didatangi oleh oknum yang mengatasnamakan dari UGM mereka meminta agar lahan yang saya kerjakan diminta 50 persen agar dikelola pihak UGM. Namun saat saya tanyakan surat tugasnya mereka tidak membawa. Hal itulah yang membuat kami bersama warga yang lain merasa kami dalam tekanan sehingga kami kembali mendatangi UGM,” ujar Sutrisno.
Sementara itu, Soetriyono, Koordinator Nasional Forum Bela Negara Republik Indonesia, mengecam tindakan yang dilakukan oleh pihak UGM terdahadap tanaman warga.
“Kami ingin duduk bersama UGM kita adu data yang ada, sebenarnya lahan ini milik siapa. Tolong jangan semena-mena dengan rakyat kecil. Mereka hanya bertani untuk mencari makan,” ucapnya.
Ia meminta agar kehadiran UGM bisa membawa kesejahteraan masyarakat Getas bukan sebaliknya.
“Jika tidak ketemu titik temu, kami akan lakukan langkah hukum sesuai aturan yang berlaku,” tandasnya.
Pihak UGM sendiri ketika dikonfirmasi terkait aksi warga yang mendatangi kampus UGM mengaku belum bisa memberikan penjelasan.
“Kami hanya petugas lapangan sehingga kami tidak memiliki kewenangan untuk menjawab ke publik,” ujar seorang petugas dari UGM.
Sebagai informasi, polemik tanah ini muncul setelah pihak UGM mengantongi izin untuk mengelola 10.800 hektare Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) di Desa Getas Kecamatan Kradenan dan sekitarnya. Kewenangan itu berdasarkan SK-632-2016 Tentang KHDTK Getas.
Jurnalis: Hanafi
Editor: Ulfa P






























