KENDAL, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendal melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Hal itu sebagai langkah antisipasi menghadapi musim hujan dan potensi bencana hidrometeorologi tahun 2025-2026.
Kepala Seksi Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kendal, Iwan Sulistyo, menjelaskan bahwa Kendal termasuk daerah dengan tingkat kerawanan bencana cukup tinggi, terutama di wilayah selatan dan pesisir bawah.
Pihaknya mencatat sedikitnya 117 kejadian bencana terjadi sepanjang Januari hingga November 2025. Bencana yang paling sering terjadi meliputi banjir, angin puting beliung, dan tanah longsor di berbagai wilayah.
“Tingkat kerawanannya di daerah selatan Siboli (Singorojo, Boja, Limbangan) dan Selokaton (Sukorejo, Pageruyung, Patean, dan Plantungan) sama yang paling tinggi bencana longsor. Sementara kalau daerah bawah tingkat kerawanannya adalah banjir, kemudian titik tertentu misalnya Kecamatan Kangkung rawan angin puting beliung,” terang Iwan, Senin, 10 November 2025.
Iwan mengatakan posko induk di Kantor BPBD Kendal kini disiagakan dengan enam personel per hari yang bertugas dalam tiga shift.
“Saat ini kita sudah mendirikan posko induk di BPBD dengan petugas piket per hari ada sekitar 6 orang. Kemudian kita bagi 3 shift untuk yang di posko, selain itu juga ada posko-posko di tingkat kecamatan,” ungkapnya.
BPBD Kendal juga menggandeng Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) serta para relawan kebencanaan untuk mempercepat respons di lapangan.
“Jadi ketika ada informasi bencana, kita langsung minta bantuan Damkar dan relawan yang ada di wilayah tersebut untuk segera melakukan penanganan dini minimal melakukan asesmen,” kata IWn.
Ia memastikan, sarana dan prasarana BPBD Kendal dalam kondisi siap digunakan meski beberapa peralatan mengalami kerusakan ringan.
“Kalau peralatan yang rusak pasti ada beberapa. Namun untuk stok peralatan yang bagus juga banyak,” tandasnya.
Sementara itu, Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kendal, Untung Tripuji Hartono, menuturkan bahwa pihaknya terus memperkuat kapasitas masyarakat melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) di titik-titik rawan.
“November ini ada 5 desa yang kita bentuk di daerah Plantungan dan Patean. Jadi jumlahnya sudah ada 32 desa,” ujarnya.
Selain itu, BPBD juga telah memasang sistem peringatan dini (Early Warning System) di sejumlah wilayah rawan untuk memberikan informasi cepat kepada masyarakat bila potensi bencana terdeteksi.
“Di Cening satu, Tirtomulyo Plantungan satu, Mojoagung satu, terus di Trompo daerah banjir juga ada, kemudian di Kedungasem Weleri,” sebut Untung.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Rosyid





























