KAB. SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang memastikan ketersediaan bahan pokok masyarakat (bapokmas) dan gas LPG dalam kondisi aman menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kabupaten Semarang, Heru Subroto, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan untuk memastikan stok dan harga kebutuhan pokok tetap stabil.
Untuk memastikan kondisi tersebut, ia menyebut Pemkab Semarang akan menggelar Rapat Ekonomi, Keuangan, Industri, dan Perdagangan (Ekuinda) pada Kamis, 12 Maret 2026 besok.
“Jadi, besok pagi (Kamis, red) kami menggelar Rapat Ekuinda untuk memastikan seluruh bapokmas termasuk gas LPG ini ketersediaan stoknya aman dan harga-harganya juga tidak melambung tinggi. Meski sebetulnya kami setiap Senin-Jumat itu sudah melakukan pemantauan di lapangan untuk memantau stok bapokmas, termasuk harganya,” kata Heru, Rabu, 11 Maret 2026.
Menurutnya, pemantauan rutin yang dilakukan Diskumperindag juga menjadi bahan laporan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan kementerian terkait mengenai kondisi ketersediaan dan harga bahan pokok di daerah.
Ia menegaskan hingga saat ini harga komoditas masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) maupun Harga Eceran Tertinggi (HET), sehingga belum terjadi lonjakan harga yang signifikan.
“Jadi begitu ada komoditi yang harganya melebihi Harga Acuan Penjualan (HAP) itu kami langsung mengambil langkah-langkah nyata untuk mengatasinya, dan kondisi sampai dengan saat ini kenaikan harganya masih di bawah HAP, artinya masih normal,” tegasnya.
Namun, Heru mengakui ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, salah satunya cabai. Harga cabai yang sebelumnya berada di kisaran Rp57 ribu per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp90 ribu per kilogram.
“Kami langsung mengambil langkah dengan berkomunikasi bersama Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) untuk melakukan operasi pasar,” jelasnya.
Untuk mengendalikan harga tersebut, Dispertanikap Kabupaten Semarang telah melaksanakan operasi pasar di tingkat kabupaten hingga kecamatan.
Kegiatan tersebut dilakukan secara terjadwal di 19 kecamatan guna menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi daerah.
Selain itu, Diskumperindag juga telah berkoordinasi dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Pertamina guna memastikan ketersediaan gas LPG tetap terjaga.
Heru menjelaskan sempat muncul informasi kelangkaan LPG di Kecamatan Pringapus yang sempat viral di masyarakat. Namun setelah dilakukan pengecekan, kelangkaan tersebut disebabkan keterlambatan distribusi.
“Tapi setelah kita cek ternyata hanya pendistribusiannya saja yang terlambat. Dan kami langsung minta kejelasan dari Pertamina, ternyata cuaca seperti ini mempengaruhi, khususnya ke proses bersandarnya kapal di dermaga, sehingga ada keterlambatan dalam pengirimannya,” ungkapnya.
Ia memastikan stok LPG di Kabupaten Semarang masih mencukupi. Hingga Februari 2026, kebutuhan LPG tercatat sekitar 12 juta tabung, sementara alokasi selama satu tahun mencapai sekitar 44 juta tabung.
“Jadi artinya stok gas LPG inikan masih banyak sekali, artinya aman stoknya,” pungkasnya.
Jurnalis: Hesty Imaniar
Editor: Rosyid






























