JAKARTA, Lingkarjateng.id – Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilaksanakan selama bulan Ramadhan. Program tersebut secara khusus menyasar kelompok rentan, yakni ibu hamil, ibu menyusui, serta anak di bawah usia lima tahun (balita).
Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan MBG merupakan salah satu instrumen penting pemerintah dalam menekan angka stunting nasional. Oleh karena itu, sasaran program tidak hanya terbatas pada peserta didik di sekolah, tetapi juga mencakup ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang berada pada fase krusial pertumbuhan.
“Bahkan di 2026 ini kita akan utamakan di 1.000 hari pertama kehidupan. Oleh sebab itu di hari libur, di Ramadhan, program kita akan tetap jalan karena target utama kita adalah ibu hamil, menyusui dan anak balita karena golden time period-nya pendek sekali karena di situlah stunting dicegah kemudian otak berkembang,” kata Dadan saat meninjau pelaksanaan MBG di SDN 01 Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis, 8 Januari 2026.
Menurutnya, pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan, termasuk sejak masa kehamilan, menjadi prioritas utama BGN.
Oleh karena itu, lembaganya berupaya memastikan tidak ada ibu hamil maupun balita yang terlewat dari program MBG sepanjang tahun.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat upaya pemerintah dalam menurunkan prevalensi stunting hingga ke level serendah mungkin.
“Jangan lupa nih sekarang karena yang menerima manfaat sudah 55,1 juta, kebutuhan rantai pasoknya menjadi sangat signifikan. Alhamdulillah program Makan Bergizi Gratis ini secara ekonomi juga telah memberikan kontribusi yang luar biasa,” ujarnya.
Dadan menambahkan, hingga 2025 tercatat sekitar 700.000 tenaga kerja terlibat langsung dalam operasional 19.188 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Jumlah tersebut belum termasuk pihak-pihak lain yang terlibat sebagai pemasok bahan pangan untuk mendukung program MBG.
Sebelumnya, BGN kembali mengoperasikan Program MBG secara serentak pada Kamis, 8 Januari 2026, setelah jeda libur sekolah. Hingga akhir 2025, program tersebut telah menjangkau sekitar 55,1 juta penerima manfaat di berbagai daerah di Indonesia.
Jurnalis: Ant
Editor: Rosyid































