Batang (lingkarjateng.id) – Kabupaten Batang, menjadi salah satu daerah yang mendapatkan pilot project program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan konsep prasmanan. Konsep penyajian ini mengacu pada budaya makan di sekolah Jepang yang menekankan kemandirian siswa.
Melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ujungnegoro 1, uji coba dilaksanakan di SMP Negeri 2 Kandeman, Kabupaten Batang, Kamis (8/10/2026).
“Dalam konsep tersebut, makanan ditempatkan dalam loyang prasmanan dan dijaga pada suhu sekitar 60–80 derajat Celsius agar tetap hangat dan segar saat disantap siswa,” kata Wahyu Nugroho, Kepala SPPG Ujungnegoro 1.
Wahyu mengungkapkan makanan dimasak sekitar pukul 08.00 WIB pagi dan mulai disajikan kepada siswa pada pukul 09.00 WIB. Jadi, berbeda dengan sistem sebelumnya, siswa mengambil dan menyajikan makanan secara mandiri sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).
“Uji coba ini dimulai 5 Oktober selama dua minggu. Untuk penyajiannya, menggunakan sistem prasmanan seperti catering, bukan lagi menggunakan ompreng,” jelasnya.
Ia membeberkan, beberapa siswa juga dilibatkan untuk membantu mengambilkan makanan bagi teman-temannya. Konsep tersebut diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi siswa, tetapi juga melatih kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab saat makan.
“Siswa juga diperbolehkan menambah porsi makanan apabila masih tersedia. Antusiasme terlihat dari para siswa yang mengikuti uji coba MBG dengan sistem prasmanan,” terangnya.
Siswa kelas 9C SMPN 2 Kandeman, Muhammad Nasrul Ilham (14), mengaku lebih menyukai konsep penyajian itu daripada sistem menggunakan ompreng. “Menu makanannya berupa ayam dan sayuran. Makanan yang disajikan dengan konsep prasmanan terasa lebih enak,” tuturnya.
Sementara itu, Plt Kepala SMPN 2 Kandeman Adam Malik mengatakan, uji coba MBG prasmanan melibatkan 64 siswa setiap hari dari dua kelas. Pelaksanaan dilakukan secara bergantian agar konsep tersebut dapat diuji sekaligus mendapatkan respons dari siswa.
“Anak-anak sangat antusias karena makanan yang disajikan lebih hangat dan segar dibandingkan menggunakan tempat makan biasa. Kondisi tersebut dinilai memudahkan proses distribusi makanan maupun penambahan apabila terdapat kekurangan,” terangnya.
Selama pelaksanaan, program berjalan dengan baik. Namun, terdapat kendala teknis karena posisi sejumlah ruang kelas berada di area bawah sehingga membutuhkan tenaga lebih untuk membawa perlengkapan penyajian.
Adam berharap, uji coba tersebut dapat terus dikembangkan sehingga sistem prasmanan bisa menjadi salah satu alternatif penyajian MBG yang tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memberikan pengalaman makan yang lebih mandiri bagi siswa. ***
Jurnalis : Fahri Akbar
Editor : Adi Arfian































