PATI, Lingkarjateng.id – Di tengah derasnya arus informasi media sosial, masyarakat perlu berhenti sejenak untuk memeriksa kebenaran sebelum menekan tombol bagikan.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Tengah Agus Sunarko saat memberikan materi tentang disinformasi dan misinformasi dalam Seminar dan Penyuluhan Hukum yang digelar Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Pati di Ruang Pragola Kabupaten Pati, Minggu, 4 Oktober 2026.
Kegiatan itu diikuti lebih dari 100 peserta. Selain jajaran PDA dan pimpinan cabang ‘Aisyiyah se-Kabupaten Pati, peserta juga berasal dari Nasyiatul ‘Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Guru ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA), serta Korp Mubalighat ‘Aisyiyah.
Agus mengatakan, derasnya informasi di media sosial membuat masyarakat harus semakin waspada. Sebab, informasi yang belum tentu benar dapat dengan cepat menyebar dan memengaruhi persepsi publik.
“Banyaknya informasi di media sosial yang berseliweran, kita harus sangat waspada dan hati-hati. Apakah informasi itu benar, layak disebarkan atau informasi itu hoaks, baik kategori misinformasi maupun disinformasi,” terangnya.
Ia mengajak kader ‘Aisyiyah melakukan verifikasi sebelum menyebarkan informasi. Langkah pertama yang dapat dilakukan yakni dengan memeriksa sumber atau akun yang mengunggahnya.
“Pastikan akun yang mem-posting itu kredibel atau tidak. Apakah akun perorangan, akun yang tergabung dalam suatu media atau official,” jelasnya.
Selain sumber, Agus berpesan agar tanggal produksi informasi turut diperiksa, sebab informasi lama dapat kembali beredar dan seolah-olah merupakan peristiwa baru. Begitu pula potongan informasi yang tidak utuh sehingga berpotensi menimbulkan kesalahan persepsi.
“Beritanya itu berita lama atau benar-benar baru. Informasinya bisa salah kalau hanya melihat sepenggal-sepenggal. Maka dipastikan melihat tanggal produksinya,” katanya.
Agus juga menegaskan, masyarakat tidak harus menjadi yang tercepat membagikan informasi.
“Stop, jangan langsung menyebarkan. Dicek dulu apakah informasi itu benar atau tidak, apakah hoaks atau tidak, apakah tayangan lama,” tegasnya.
Sementara itu, Agus menilai kader ‘Aisyiyah memiliki posisi strategis karena dekat dengan keluarga, jamaah, sekolah, komunitas, dan masyarakat akar rumput.
“Kader ‘Aisyiyah tidak harus menjadi yang paling cepat. Tapi harus bisa menjadi yang paling bertanggung jawab,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Pati Tjahjani Hasana mengatakan, materi disinformasi dan misinformasi sengaja diberikan karena kader saat ini berada di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat pesat.
“Sekarang ini era digital sangat maju pesat dan berhubungan dengan dunia maya. Di media sosial sering ada berita-berita hoaks, ujaran kebencian, hate speech dan sebagainya,” bebernya.
Menurut Tjahjani, jika informasi tidak disikapi dengan baik, dampaknya dapat berkembang menjadi miskomunikasi maupun mispersepsi.
Karena itu, ia meminta agar kader memiliki kemampuan memilah informasi sebelum menyampaikannya kepada keluarga dan masyarakat.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dalam seminar tidak berhenti pada peserta.
“Kader diharapkan meneruskan pemahaman tersebut ke lingkungan masing-masing sehingga semakin banyak masyarakat yang mampu mengenali dan menangkal informasi keliru.” tandasnya.
Jurnalis: Lingkar Network/Fahtur Rohman
Editor: Sekar































