PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan bersama Kemitraan Indonesia resmi meluncurkan Program “Rumah Livelihood” sebagai upaya membuka peluang penghidupan baru bagi masyarakat terdampak rob sekaligus memperkuat ekonomi berbasis lingkungan.
Peluncuran program ditandai melalui kegiatan kick off di Hotel Aston Pekalongan, Senin, 8 Juni 2026, yang dihadiri Wakil Wali Kota Pekalongan, Balgis Diab, serta Tim Leader Adaptation Fund Pekalongan Arif Mahmudi. Program ini akan berpusat di Rumah Livelihood yang berlokasi di eks Kantor Markas PMI Kota Pekalongan, Jalan Rajawali Timur No. 2.
Balgis menegaskan program tersebut diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial.
“Program ini diharapkan menjadi wadah penguatan ekonomi masyarakat sekaligus mendorong lahirnya model bisnis hijau yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, program ini tidak hanya menyasar pelaku usaha, tetapi juga melibatkan generasi muda untuk turut berperan dalam menjaga lingkungan sekaligus mengembangkan usaha berkelanjutan.
“Program ini tidak hanya menyasar pelaku usaha, tetapi juga melibatkan generasi muda untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungan dan mengembangkan usaha berkelanjutan,” tambahnya.
Menurutnya, kehadiran Rumah Livelihood diharapkan menjadi pusat penguatan ekonomi daerah yang berkelanjutan di Kota Pekalongan.
“Kami berharap ini menjadi rumah penguatan pembangunan ekonomi di Kota Pekalongan, tidak hanya kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk menciptakan pengusaha yang mandiri dan mampu melanjutkan program secara berkelanjutan,” tegasnya.
Sementara itu, Tim Leader Adaptation Fund Pekalongan Arif Mahmudi menjelaskan bahwa Rumah Livelihood, atau Balai Brayan Urip, akan difungsikan sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
“Rumah Livelihood atau Balai Brayan Urip akan menjadi pusat edukasi, pemberdayaan, uji coba usaha, serta ruang komunikasi bagi kelompok masyarakat yang selama ini didampingi Kemitraan Indonesia,” jelasnya.
Ia menyebut, fasilitas tersebut dirancang untuk membantu masyarakat terdampak rob yang kehilangan mata pencaharian agar dapat mengembangkan usaha baru yang produktif.
“Tempat ini akan menjadi ruang pengembangan usaha baru bagi masyarakat yang kehilangan mata pencaharian. Produk UMKM akan ditampung dan dipasarkan, serta tersedia ruang praktik dan edukasi seperti pelatihan batik ekologis, pengolahan hasil perikanan, dan budidaya mangrove,” ungkapnya.
Selain itu, berbagai program berbasis lingkungan juga akan dikembangkan, di antaranya silvofishery, rumah bibit mangrove, hingga ekowisata.
“Kami mendorong pengembangan silvofishery, rumah bibit mangrove, ekowisata, hingga arboretum mangrove sebagai sarana edukasi dan peningkatan ekonomi masyarakat,” lanjut Arif.
Menurutnya, program ini juga menjadi bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim di Kota Pekalongan yang selama ini menghadapi tantangan rob dan penurunan muka tanah.
“Program ini merupakan bagian dari upaya adaptasi perubahan iklim, mengingat Pekalongan menghadapi rob dan penurunan muka tanah. Melalui edukasi dan pemberdayaan ekonomi, diharapkan masyarakat lebih tangguh menghadapi dampaknya,” ujarnya.
Ia mengatakan saat ini pembangunan Rumah Livelihood masih dalam tahap renovasi dengan tetap mempertahankan nilai bangunan heritage di lokasi eks Markas PMI Kota Pekalongan dan ditargetkan mulai beroperasi penuh pada Agustus 2026.
“Lokasinya berada di eks Kantor Markas PMI Kota Pekalongan dan saat ini masih dalam proses renovasi dengan tetap memperhatikan pelestarian bangunan heritage. Targetnya bisa beroperasi penuh pada Agustus 2026,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Rosyid




























