Jakarta (lingkarjateng.id) – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah menggelontorkan dana Rp 1,7 triliun untuk mendukung 18.215 kegiatan riset dan pengembangan di sejumlah kampus. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto.
“Selamat kepada seluruh penerima. Ini merupakan hasil kerja keras dan dedikasi luar biasa dalam menyiapkan diri bersama tim, berkolaborasi dengan dosen dan peneliti untuk menyiapkan proposal, melaksanakan penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat sehingga menghasilkan karya riset dan inovasi yang berdampak,” kata Yuliarto dikutip dari laman resmi Kemdiktisaintek, Senin (13/4/2026).
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menambahkan skema pendanaan tahun 2026 dibuat agar hasil riset cepat memberi dampak nyata.
“Program ini diarahkan untuk menjawab berbagai permasalahan strategis nasional, memperkuat ekosistem riset, serta mendorong percepatan hilirisasi hasil riset ke masyarakat dan industri,” ujarnya.
“Pada saat yang sama, kolaborasi lintas perguruan tinggi, lembaga riset, dan pemangku kepentingan terus diperkuat agar pemanfaatan hasil riset dapat berlangsung lebih luas dan berdampak,” sambungnya
60 Persen Penerima dari PTS
Fauzan menyebut penerima pendanaan ini sebanyak 60% dari perguruan tinggi swasta (PTS). Sisanya sebanyak 40% dari perguruan tinggi negeri (PTN).
Penerima merupakan dosen-dosen dari 38 provinsi. Mulai tahun ini juga, sebesar 25% dana riset dialokasikan untuk honorarium peneliti.
Fokus Sektor Riset
Adapun pendanaan ini berfokus pada pendanaan riset untuk bidang-bidang:
Kesehatan: 27%
Ketahanan pangan: 25%
Hilirisasi dan industrialisasi: 16%
Digitalisasi yang mencakup kecerdasan buatan dan semikonduktor: 15%
Energi: 7%
Manufaktur dan material maju: 4%
Maritim: 4%
Pertahanan: 2%
Rincian Pendanaan
Pendanaan ini memiliki rincian sebagai berikut:
– Penguatan kapasitas riset dosen dan riset dasar dan terapan: Rp 1,04 triliun untuk 13.028 proposal yang lolos
– Program Pengabdian Masyarakat (PKM): Rp 167 miliar untuk 3.328 tim
– Program Hilirisasi Riset Prioritas: Rp 318 miliar untuk 925 proposal yang lolos
– Program Pengujian Model dan Prototipe: Rp 46 miliar untuk 354 proposal
– Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB): Rp 62,4 miliar untuk 102 konsorsium
– Penguatan Kapasitas Kelembagaan Riset di kampus: Rp 7,85 miliar
– Program Mahasiswa Berdampak: Rp 21,9 miliar untuk 202 proposal
– Program Inovasi Seni Nusantara (PISN): Rp 17,5 miliar untuk 244 proposal
– Program PHC-Nusantara: Rp 2,2 miliar untuk 15 proposal
Menurut Yuliarto, inovasi tidak akan berhenti di laboratorium dan ruang kelas jika kolabarasi kampus, pemerintah dan dunia usaha terus dilakukan. Ia berharap skema pendanaan ini bisa memaksimalkan dampak riset kampus-kampus.
“Mari jadikan sains dan teknologi sebagai penggerak pertumbuhan dan pemerataan ekonomi kita demi Indonesia yang mandiri dan berdaya saing,” tegasnya.***
Editor : Fian


























