BLORA, Lingkarjateng.id – Warga Desa Nglebak, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, bergotong royong memperbaiki jalan rusak milik Pemerintah Kabupaten Blora secara swadaya. Jalan yang diperbaiki merupakan ruas Menden–Megeri yang selama ini dikeluhkan warga karena kondisinya rusak parah.
Perbaikan dilakukan dengan pembangunan rabat beton sepanjang hampir satu kilometer. Warga terlibat langsung dalam proses pembangunan, mulai dari menyumbang bahan bangunan hingga tenaga kerja.
Sebagian warga mengumpulkan dana untuk membeli semen, sementara yang lain menyumbangkan tenaga maupun menyediakan makanan bagi para pekerja. Kegiatan gotong royong tersebut berlangsung setiap hari, dari pagi hingga malam.
Aksi warga itu juga sempat viral di media sosial setelah diunggah melalui akun TikTok Nglebak Official.
Maryono, pemilik akun tersebut, mengatakan akses Jalan Menden–Megeri sudah puluhan tahun tidak mendapatkan perbaikan yang memadai dari pemerintah. Kondisi jalan yang berada di kawasan hutan dengan kontur naik turun serta dipenuhi bebatuan membuat aktivitas warga menjadi sulit.
“Terakhir bangunan aspal masuk di sini itu 2014 silam. Bisa dibayangkan sampai saat ini bagaimana kondisinya,” ujarnya, Kamis, 5 Maret 2026.
Ia menambahkan, warga selama ini kerap menerima janji perbaikan dari sejumlah pejabat yang datang ke desa. Namun, hingga kini realisasinya belum pernah dirasakan masyarakat setempat.
“Memang ada bangunan atas nama ruas Jalan Menden-Megeri, tapi titiknya di Desa Mendenrejo atau di Getas. Sedangkan di sini tidak pernah dialokasikan,” katanya.
Menurut Maryono, kekecewaan terhadap janji yang tidak kunjung terealisasi membuat warga akhirnya berinisiatif membangun jalan secara mandiri.
“Kami sudah tidak berharap lagi dengan pemerintah, kami bisa bangun jalan sendiri,” ucapnya.
Kepala Desa Nglebak, Eko Puryono, membenarkan bahwa pembangunan jalan tersebut dilakukan secara gotong royong oleh warga.
“Iya benar dibangun sendiri dengan rabat beton kanan kiri, dan di tengahnya diisi grosok termasuk Berem kanan dan kiri,” jelasnya.
Ia menjelaskan, inisiatif pembangunan jalan berasal dari para ketua RT dan RW yang kemudian didukung oleh seluruh warga desa. Pengerjaan dilakukan secara bertahap di masing-masing dukuh.
Di Desa Nglebak sendiri terdapat empat dukuh, yakni Dukuh Nglebak, Dukuh Kalikangkung, Dukuh Plumbon, dan Dukuh Ngandong.
“Di desa kami ada 4 Dukuh yakni Dukuh Nglebak, dukuh Kalikangkung, Dukuh Plumbon dan Dukuh Ngandong. Mereka membangun sesuai dukungan masing-masing,” jelasnya.
Menurut Eko, hingga saat ini panjang jalan yang telah dibangun hampir mencapai satu kilometer. Seluruh biaya pembangunan berasal dari swadaya masyarakat tanpa bantuan dari pemerintah.
“Mungkin warga sudah ingin memiliki jalan yang mulus seperti jalan-jalan milik desa lain, sehingga mereka sudah tidak sabar menunggu dari bantuan pemerintah,” pungkasnya.
Jurnalis: Hanafi
Editor: Rosyid































