GROBOGAN, Lingkarjateng.id – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mendorong percepatan modernisasi sektor pertanian melalui penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan). Hal itu ditunjukkan saat melakukan tanam bersama Brigade Pangan di Desa Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa, 3 Maret 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Wamentan Sudaryono meninjau sekaligus menguji penerapan mekanisasi pertanian di lahan yang dikelola Brigade Pangan. Di lokasi ini, Brigade Pangan mengelola lahan seluas 8 hektare dengan pola tanam dua kali setahun dan produktivitas mencapai 7–8 ton per hektare.
Menurut Sudaryono, mekanisasi pertanian menjadi langkah penting untuk meningkatkan efisiensi kerja petani sekaligus mengatasi keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian.
“Brigade Pangan itu adalah kelompok-kelompok orang, jumlahnya 15 kemudian mengelola 200-300 hektare. Nanti pakai mekanisasi. Jadi kita ini memang transformasi dari mekanisapi jadi mekanisasi. Sapi pakai tenaga manusia sekarang kan sulit, tenaga manusia juga sekarang mencari orang tandur juga nggak semudah dulu dan ini memang transformasi ke mekanisasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penggunaan alsintan memberikan keuntungan dari sisi presisi tanam sehingga pertumbuhan tanaman dapat lebih optimal.
“Pakai alat itu untungnya apa sih? Yang pertama presisi, jadi dia lebih tepat. Jarak-jaraknya lebih pas. Kalau jaraknya pas itu ada teorinya pak. Ada jarak tanam itu ada teorinya. Nah itu pertumbuhannya jadi optimal,” katanya.
Selain presisi, Sudaryono yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menyebut faktor kecepatan kerja menjadi nilai tambah utama mekanisasi pertanian.
“Yang kedua, nanemnya dan panenya lebih cepat. Nah kalau nanemnya cepat, panenya cepat. Ya nandur panenin yang cepat, kemudian nanemnya cepat itu artinya kita hemat waktu. Sehingga dalam setahun kita harapkan bisa panen lebih dari dua kali,” sebutnya lagi.
Di lokasi tanam tersebut, pola tanam yang diterapkan adalah padi–padi–palawija. Dengan mekanisasi, masa tanam dapat berlangsung lebih cepat sehingga peluang meningkatkan indeks pertanaman dalam setahun semakin besar.
Sudaryono yang merupakan pria kelahiran Grobogan itu juga mengungkapkan adanya testimoni petani yang merasakan peningkatan hasil panen setelah menggunakan alsintan.
“Tadi testimoninya adalah pakai alat ternyata hasil panenya 80 sak dari luasan se-bahu, satu ton selisihnya. Jadi ya lumayan. Satu ton itu kan artinya 6.500 ya, 6,5 juta. Itu bedanya ya lumayan,” imbuhnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa modernisasi pertanian tidak bisa sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah.
“Memang mekanisasi ini ada tantangannya, kan gak mungkin semua disediakan sama pemerintah, gak mungkin semua bantuan gratis,” imbuhnya.
Karena itu, Sudaryono mendorong pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk pengadaan alsintan dengan bunga rendah yang disubsidi pemerintah.
“Maka saya mengundang, saya akan memulai dengan diri. Saya sudah ada beberapa alat yang saya beli sendiri pakai KUR. Kemudian mereka sewakan. Jadi saya mengundang siapapun. Jadi ada kredit alsintan, kredit usaha alsintan pakai KUR jadi bunganya rendah, disubsidi sama pemerintah cuma 3%. Ini sangat menguntungkan jadi silakan, siapapun itu. Dan saya sudah buktikan bahwa memang ada hasilnya,” tegasnya.
Ia pun mengajak masyarakat melihat sektor pertanian sebagai peluang investasi riil yang produktif.
“Daripada ribut-ribut orang gitu, daripada investasi yang gak-enggak, apalagi mohon maaf sampai ke spekulasi-spekulasi yang gak bener, sampai judionan misalnya, yang lebih baik kita yang pasti-pasti aja ya itu pertanian,” paparnya.
Melalui Brigade Pangan dan percepatan mekanisasi, Kementerian Pertanian menargetkan peningkatan produktivitas sekaligus penguatan kelembagaan petani agar sektor pertanian semakin modern, efisien, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.*
Editor: Sekar S
































